Nasionaldetik.com ,— 17 September 2026 KETUA UMUM POROS 98 Bilung Silaen membongkar borok rusaknya sistem negara. Menurutnya, sumber kerusakan ada pada partai politik yang sudah 100% dijajah oligarki.
Ini negara sudah rusak dari hulunya. Partai politik sudah bukan lagi alat perjuangan rakyat, tapi sudah jadi perusahaan milik oligarki. Ketua umum partai disandera pemodal. Kebijakan partai ditentukan oligarki. Kalau begitu, bagaimana negara mau benar? Pasti ikut rusak,” tegas Bilung Silaen dengan nada keras di Jakarta, Selasa (16/9/2026).
Bilung secara khusus menyoroti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ia sebut sebagai program rusak dan gagal total karena dipaksakan tanpa konsep matang.
“MBG itu rusak total. Kenapa saya bilang rusak?”
Pertama, tidak ada ekosistem yang siap. Rantai pasok bahan pangan tidak disiapkan. Petani lokal tidak dilibatkan. Yang ada hanya impor dan penunjukan vendor oligarki.
Kedua, tidak ada standar gizi yang jelas. Ahli gizi tidak dilibatkan secara serius. Menu asal-asalan, yang penting kenyang, bukan bergizi. Anak-anak kita diberi makan asal jadi.
Ketiga, ini hanya jadi bancakan korupsi baru. Anggarannya triliunan, tapi tidak ada transparansi. Dari pusat sampai desa jadi ajang bagi-bagi proyek MBG untuk kroni.
“Itu bukan program gizi, itu program bagi-bagi uang negara untuk oligarki. Dipaksakan jalan padahal dapurnya saja belum ada,” tegas Bilung Silaen.
KOPERASI MERAH PUTIH: KOPERASI SILUMAN CIPTAAN OLIGARKI
Tak kalah keras, Bilung Silaen juga membedah Koperasi Merah Putih yang dinilainya sebagai koperasi siluman.
“Koperasi Merah Putih itu koperasi jadi-jadian. Koperasi yang lahir bukan dari kesadaran anggota, tapi dari perintah kekuasaan. Itu bukan koperasi, itu korporasi oligarki yang pakai baju koperasi,” ungkap Bilung Silaen.
Bilung Silaen mengatakan, rusaknya ada di tiga titik Koperasi Merah Putih :
1. Top Down dan Paksaan: Koperasi yang benar lahir dari bawah, dari kebutuhan rakyat. Ini tidak. Ini dibentuk dari atas dengan instruksi, paksaan, target-targetan. Kepala desa ditekan harus bentuk. Ini pemaksaan.
2. Tidak Ada SDM dan Konsep Bisnis: Mana konsep bisnisnya? Mana SDM koperasinya yang dilatih? Tidak ada. Dibentuk buru-buru, diresmikan buru-buru, tapi tidak ada yang tahu koperasi ini mau jual apa, kelola apa, untungnya dari mana. Akhirnya mangkrak dan jadi beban desa.
3. Alat Politik dan Pencitraan: Koperasi Merah Putih hanya jadi alat politik untuk klaim keberhasilan. Jumlahnya banyak, tapi isinya kosong. Hanya untuk laporan ke presiden seolah-olah ekonomi desa bergerak, padahal omong kosong.
“MBG dan Koperasi Merah Putih itu dua contoh nyata program rusak yang dipaksakan. Belum siap tapi dipaksa jalan. Karena tujuannya bukan untuk rakyat, tujuannya untuk menyedot anggaran,” tegas Bilung.
Bilung Silaen menambahkan program lain seperti cek kesehatan gratis, janji 3 juta rumah, swasembada pangan dan lapangan kerja juga hanya omong kosong belaka.
“Semua omong kosong. Tidak ada desain besar. Tidak ada kerja serius. Yang ada hanya jargon.”
SOLUSI: REVOLUSI BUDAYA
Untuk memperbaiki negara yang sudah rusak ini, Bilung menawarkan satu jalan: Revolusi Budaya.
“Tidak cukup ganti presiden, tidak cukup ganti partai. Sistemnya sudah dikunci oligarki. Satu-satunya jalan adalah Revolusi Budaya. Revolusi untuk menghancurkan budaya transaksional, budaya pragmatis, budaya menjilat oligarki,” katanya.
“Revolusi budaya adalah mengembalikan kedaulatan ke tangan rakyat. Mengembalikan politik sebagai pengabdian, bukan sebagai ladang bisnis oligarki. Tanpa itu, Indonesia akan terus rusak,” pungkas Bilung.
Tim Redaksi



























