Oleh Imam Baehaqi :
Aktivis NU dan Pengasuh PP MIS Raudlotul Jannah Sarang Rembang
Nasionaldetik.com,— 13 September 2026 Saya mengenal Kiai Imam Jazuli atau kerap dipanggil Kiai Imjaz, dulu waktu beliau aktif sebagai Wakil Ketua RMI PBNU periode 2010-2015. Tetapi secara lebih intens, sejak 2 tahun lebih lalu saat bersama-sama menggagas gerakan kritis terhadap kepemimpinan PBNU periode 2021-2026 dengan membentuk Presidium Penyelamat Organisasi (PO) dan Muktamar Luar Biasa (MLB) NU.
Jadi saya tahu betul apa yang mendasari semua pemikiran dan gerakannya untuk NU. Semua itu karena kecintaan beliau terhadap NU, dalam seluruh aspeknya.
Termasuk elemen politik NU, yakni PKB. Demi cintanya tersebut, beliau tak segan berkorban waktu tenaga fikiran dan hartanya untuk memperjuangkannya.
Baginya, dua entitas besar kaum Nahdliyin ini adalah takdir sejarah yang harus berjalan seiring dan saling menguatkan. Inilah andil besar NU terhadap perjalanan bangsa ini.
Saya ingin memberikan komentar dan apresiasi mendalam atas munculnya buku yang merupakan bunga rampai refleksi pemikiran kiai Imjaz terhadap Perjalanan NU ini.
Buku NU Abad Kedua: Merawat Akar, Menjemput Masa Depan (Sebuah Otokritik) karya KH. Imam Jazuli, Lc., MA, hadir pada momentum yang sangat penting. Setelah melewati satu abad perjalanan sejarah, Nahdlatul Ulama tidak cukup hanya merayakan kebesaran masa lalu. NU membutuhkan keberanian untuk bertanya: apa yang harus dipertahankan, apa yang harus diperbaiki, dan lompatan apa yang harus dilakukan agar khidmahnya tetap relevan bagi umat, bangsa, bahkan dunia.
Kekuatan utama buku ini justru terletak pada keberaniannya melakukan otokritik dari dalam. Kritik dalam buku ini tidak diletakkan sebagai bentuk perlawanan terhadap NU, tetapi sebagai ekspresi kecintaan dan rasa memiliki. Penulis menegaskan bahwa kritik yang lahir dari rasa memiliki merupakan salah satu bentuk kecintaan yang bertanggung jawab. Karena itu, buku ini tidak mengajak warga NU meninggalkan masa lalu, tetapi menjadikan pengalaman sejarah sebagai bekal untuk menata masa depan.
Inilah perspektif yang patut diapresiasi. NU adalah organisasi besar dengan modal sosial luar biasa. Namun kebesaran jumlah jamaah dan luasnya struktur tidak otomatis menjamin kuatnya tata kelola, kualitas pendidikan, kemandirian ekonomi, penguasaan teknologi, maupun daya tawar strategis. Buku ini mengajak NU mengubah modal sosial tersebut menjadi kekuatan yang lebih terorganisasi, produktif, profesional, dan benar-benar terasa manfaatnya bagi warga Nahdliyin.
Gagasan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam agenda yang sangat konkret. NU abad kedua, menurut buku ini, membutuhkan tajdid tata kelola, modernisasi administrasi, digitalisasi data, profesionalisme, transparansi, dan meritokrasi. Kepemimpinan tidak boleh berhenti pada persoalan kedekatan personal, patronase atau kebanggaan nasab, tetapi harus semakin memperhatikan kapasitas, rekam jejak dan kompetensi. Muktamar pun idealnya menjadi ruang konsolidasi gagasan, bukan arena yang meninggalkan luka setelah kontestasi selesai.
Yang menarik, buku ini tidak hanya berbicara tentang struktur organisasi, tetapi juga mengajak melakukan revolusi mental Nahdliyin. Penulis menawarkan transformasi dari sami’na wa atha’na menuju fakarna wa ‘amalna: tetap beradab kepada kiai, tetapi sekaligus berani berpikir, bertanya, menguji, dan berkarya. Ini bukan ajakan meninggalkan tradisi pesantren, melainkan usaha mempertemukan adab dengan akal, spiritualitas dengan rasionalitas, serta sanad keilmuan dengan kemampuan menjawab problem zaman.
Demikian pula dengan pesantren. Buku ini menawarkan visi yang sangat progresif: santri masa depan tidak harus seluruhnya menjadi kiai atau ustaz, tetapi juga harus hadir sebagai dokter, insinyur, hakim, diplomat, teknokrat, birokrat, ilmuwan, profesional, pengusaha, bahkan ahli teknologi. Pesantren harus tetap berakar pada nilai Ahlussunnah wal Jamaah, tetapi mampu melahirkan generasi yang menguasai sains, teknologi, bahasa dan kompetensi profesional. Dengan demikian, pesantren bukan sekadar penjaga tradisi, tetapi menjadi kawah candradimuka kepemimpinan bangsa.
Buku ini juga patut diapresiasi karena memperluas makna khidmah NU. Dakwah tidak cukup berhenti pada panggung dan seremoni. Dakwah harus hadir di tengah kemiskinan, pendidikan, kesehatan, ketahanan keluarga, kewirausahaan, literasi digital dan problem sosial kontemporer. Agama harus dirasakan sebagai kekuatan yang memberikan solusi nyata bagi kehidupan manusia.
Pada saat yang sama, penulis mengingatkan bahwa moderasi beragama harus keluar dari wilayah jargon menuju praksis. Toleransi membutuhkan keluasan ilmu, keterbukaan terhadap perbedaan dan keberanian meninggalkan monopoli kebenaran. NU justru akan semakin kuat apabila perbedaan pandangan dikelola sebagai khazanah intelektual, bukan diperlakukan sebagai ancaman.
Puncak spiritual buku ini terasa pada gagasan “Nahnu NU”—pergeseran dari ana wal akhar menuju nahnu, dari “aku dan mereka” menjadi “kita”. Di sinilah buku ini menemukan pesan persatuannya. NU abad kedua tidak mungkin dibangun oleh satu tokoh, satu kelompok atau satu faksi. Ia membutuhkan orkestrasi seluruh kekuatan: ulama, pesantren, intelektual, profesional, aktivis, pengusaha, birokrat dan warga akar rumput.
Kritik terhadap fanatisme nasab juga menjadi bagian penting dari pesan tersebut. Penulis mengajak Nahdliyin bermigrasi dari mentalitas “berebut nasab” menuju “memperbaiki nasib”—sebuah ungkapan yang sederhana tetapi menggugah. Kemuliaan seseorang semestinya semakin tampak melalui ilmu, akhlak, karya dan pengabdian, bukan semata-mata melalui garis keturunan.
Pada akhirnya, buku ini bukan sekadar kumpulan artikel tentang NU. Ia adalah cermin, alarm sekaligus kompas. Cermin untuk melihat wajah NU secara jujur; alarm agar NU tidak terlena oleh kebesaran sejarah; dan kompas untuk menjemput masa depan dengan tetap menjaga akar tradisi.
Pesan terdalam buku ini sederhana tetapi sangat penting: NU tidak perlu kehilangan jati dirinya untuk menjadi modern, dan NU tidak perlu takut berubah untuk tetap setia kepada warisan para muassis. Justru dengan merawat akar yang kuat, NU dapat menumbuhkan cabang baru yang lebih rindang, melahirkan kader yang lebih unggul, dan memberikan buah kemaslahatan yang lebih luas.
Karena itu, NU Abad Kedua layak dibaca bukan hanya oleh pengurus NU, tetapi oleh siapa pun yang mencintai NU dan ingin melihatnya tumbuh menjadi organisasi yang semakin berilmu, beradab, profesional, mandiri, terbuka, inklusif dan membumi.
Merawat akar bukan berarti hidup di masa lalu. Menjemput masa depan bukan berarti meninggalkan tradisi. Keduanya justru harus berjalan bersama: menjaga warisan para ulama, sembari berani melakukan lompatan peradaban.
Tim Redaksi





























