Lia Hambali Jurnalis Senior Sayangkan Video Viral Selegram Yang Kaitkan Dirinya Dengan Pungli

NUR KENNAN BR TARIGAN

- Redaksi

Sabtu, 6 Juni 2026 - 23:39 WIB

5062 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KARO, Nasionaldetik.com

Viral dijagat maya dan kanal media sosial sejumlah unggahan yang menyinggung dugaan pungutan di kawasan pemandian air panas Doulu, Kabupaten Karo, memunculkan sorotan luas dari publik. Tengah ramai perbincangan saat itu, Wakil Pimpinan Redaksi AgaraNws.com, Lia Hambali, menyampaikan klarifikasi tegas agar foto maupun keberadaannya di lokasi tidak dikaitkan dengan dugaan pungutan liar yang sedang menjadi bahan pembicaraan masyarakat.

Lia menegaskan bahwa dirinya memang berada di lokasi saat suasana ramai terjadi. Namun, kehadirannya semata-mata dalam kapasitas sebagai insan jurnalis yang sedang menjalankan tugas peliputan. Menurut dia, posisi dan perannya di tempat kejadian tidak memiliki hubungan apa pun dengan dugaan pungutan liar yang kini beredar luas diplatform media sosial.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saya menyampaikan kepada seluruh masyarakat agar tidak melibatkan foto-foto saya dalam dugaan pungutan tersebut. Kebetulan saya berada di lokasi sebagai jurnalis dan menjalankan tugas peliputan. Kehadiran saya tidak ada kaitannya dengan persoalan yang sedang viral,” ujar Lia Hambali.

Klarifikasi ini muncul setelah sejumlah foto dirinya beredar di media sosial dan dinilai berpotensi menimbulkan persepsi yang keliru di tengah publik. Dalam beberapa unggahan, Lia terlihat berada di lokasi, termasuk dalam satu dokumentasi saat memegang telepon genggam.

Bagi sebagian warganet, potongan gambar seperti itu mudah ditafsirkan secara serampangan, apalagi ketika dipadukan dengan narasi yang belum terverifikasi. Situasi inilah yang menurut Lia perlu segera diluruskan agar tidak berkembang menjadi kesimpulan yang menyesatkan.

Pihaknya menjelaskan, foto yang memperlihatkan dirinya memegang telepon genggam merupakan dokumentasi dalam peliputan. Aktivitas tersebut, kata dia, sama sekali bukan bagian dari tindakan yang berkaitan dengan dugaan pungutan maupun persoalan yang melibatkan pengunjung.

Dalam kerja jurnalistik, penggunaan telepon genggam di lokasi peristiwa merupakan hal yang lumrah, baik untuk mencatat informasi, berkomunikasi dengan narasumber dan redaksi, maupun mendokumentasikan perkembangan situasi.

Lia juga mengingatkan bahwa derasnya arus informasi di media sosial kerap membuat batas antara fakta, opini, dan asumsi menjadi kabur. Dalam konteks peristiwa yang sedang ramai dibicarakan, ia menilai publik perlu lebih berhati-hati agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumber dan kebenarannya.

Menurut dia, setiap informasi semestinya diverifikasi terlebih dahulu sebelum disebarluaskan atau dijadikan dasar untuk menilai seseorang.

Saya menghimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang belum tentu kebenarannya. Setiap informasi harus diverifikasi terlebih dahulu agar tidak menimbulkan fitnah dan merugikan pihak lain,” katanya.

Pernyataan itu sekaligus menyoroti persoalan yang lebih luas, yakni kecenderungan sebagian pengguna media sosial menarik kesimpulan hanya dari potongan foto, video singkat, atau narasi yang belum diuji.

Dalam banyak kasus, seseorang yang kebetulan berada di lokasi peristiwa dapat dengan cepat terseret ke dalam pusaran opini publik, meski kehadirannya tidak berkaitan dengan substansi masalah. Risiko seperti ini semakin besar ketika unggahan viral dibagikan berulang-ulang tanpa konteks yang utuh.

Di lapangan, keberadaan jurnalis di lokasi peristiwa pada dasarnya merupakan bagian dari fungsi pers untuk mencari, mengumpulkan, dan menyampaikan informasi kepada publik. Kehadiran wartawan justru dibutuhkan agar fakta yang berkembang dapat dicatat secara lebih utuh dan tidak semata bergantung pada potongan informasi dari media sosial.

Karena itu, Lia menilai penting bagi masyarakat untuk membedakan antara pihak yang menjalankan tugas peliputan dengan pihak yang benar-benar terlibat dalam persoalan yang sedang dipersoalkan.

Klarifikasi ini juga menjadi penting karena persoalan yang viral tidak hanya berdampak pada nama baik individu, tetapi juga dapat memengaruhi kepercayaan publik terhadap profesi dan proses pencarian fakta itu sendiri. Jika foto seorang jurnalis diseret ke dalam narasi yang tidak tepat, maka bukan hanya individu yang dirugikan, melainkan juga ruang publik yang tercemar oleh informasi yang tidak akurat. Dalam jangka panjang, situasi seperti ini dapat memperkeruh upaya penelusuran fakta yang semestinya dilakukan secara tenang, objektif, dan bertanggung jawab.

Lia meminta masyarakat lebih bijak dalam menyikapi setiap informasi yang beredar, terutama yang berkaitan dengan peristiwa yang masih membutuhkan pendalaman. Ia mengingatkan bahwa asas praduga tak bersalah harus tetap dijunjung, dan proses klarifikasi perlu dihormati agar publik tidak terjebak dalam penghakiman sepihak.

Mari bersama-sama bijak dalam menggunakan media sosial. Jangan sampai foto seseorang digunakan untuk menggiring opini yang belum tentu sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Kebenaran harus didasarkan pada data dan fakta, bukan asumsi maupun prasangka,” tutup Lia Hambali.

Di tengah cepatnya penyebaran informasi, klarifikasi ini menjadi pengingat bahwa satu foto tidak selalu menjelaskan keseluruhan peristiwa. Di balik gambar yang beredar, selalu ada konteks yang harus dipahami, fakta yang harus diperiksa, dan kehati-hatian yang wajib dijaga. Ketika ruang digital dipenuhi opini yang berkejaran lebih cepat daripada verifikasi, publik justru dituntut semakin cermat agar tidak ikut memperpanjang kabar yang keliru.

Pada akhirnya, menjaga akurasi informasi bukan hanya tanggung jawab jurnalis, melainkan juga tanggung jawab bersama sebagai pengguna ruang publik.

(Nur Kennan Tarigan)

Berita Terkait

Babinsa Komsos dengan Petani, Pastikan Musim Tanam Ketiga Tetap Aman di Tengah Kemarau
Hijaukan Harapan Panen, Babinsa Dewantara Terjun Langsung Pantau Padi Warga
GROMBOLAN MALING :Pupuk Subsidi Beroperasi Rapi & Terkoordinir: Petani Sumbermanjing Wetan Terancam Bangkrut di Tengah Janji Pemerintah
Membangun Harmoni dan Kebersamaan, Danrem 031/WB Gelar Silaturahmi Bersama Keluarga Besar Karo Pekanbaru
Kapolda Aceh Tinjau Lahan Jagung 40 Hektare di Pidie, Serahkan Bantuan 10 Sumur Bor Untuk Petani
Cegah Konflik Sejak Dini, Babinsa Koramil 06/Kerajaan Rangkul Pemuda Lewat Komsos Santai
Babinsa Juparman Purba Sambangi Petani Nilam, Dengarkan Langsung Harapan Warga Desa Napatalun
Parit Dipenuhi Sampah dan Endapan Tanah, Warga Sumbul Tengah Bergerak Bersama Dalam Jumat Bersih

Berita Terkait

Sabtu, 6 Juni 2026 - 23:25 WIB

Unit Reskrim Polsek Bandar Huluan Tindaklanjuti Laporan Warga, Cek Dugaan Aktivitas Judi di Warung Kopi

Sabtu, 6 Juni 2026 - 23:06 WIB

Koalisi Sipil Pasuruan Desak Transparansi Pengusutan Dugaan Pungli Perangkat Desa Jeruk

Sabtu, 6 Juni 2026 - 22:53 WIB

Sabam Tanjung Minta Fotonya Dicabut, Berita ‘Di-Prank Disdik Riau’ Dinilai Tak Mewakili Semua Wartawan

Sabtu, 6 Juni 2026 - 18:24 WIB

Hormati Jasa Pahlawan, Denpom V/1 Madiun Tanamkan Nilai Patriotisme kepada Prajurit

Sabtu, 6 Juni 2026 - 14:27 WIB

LPAKN RI Projamin Soroti Pembangunan KNMP di Limau: Material Diduga Tak Standar, Minta Dibongkar Ulang

Jumat, 5 Juni 2026 - 20:28 WIB

Penutupan Jalur Utama Tulungagung–Trenggalek Berdampak Besar: Truk Bertonase Tinggi Nekat Masuk Jalur Alternatif, Polisi Tindak Tegas

Jumat, 5 Juni 2026 - 19:31 WIB

Membangun Pondasi Dan Struktur Gerakan Dari Arus Bawah* (Catatan Khidmah Gus Salam di PWNU Jawa Timur) Oleh : Ahmad Samsul Rijal*

Jumat, 5 Juni 2026 - 15:02 WIB

Gus Rosikh : NU Jangan Dibuat Mainan, Jangan Jadi Alat Kepentingan Antar Kelompok, NU Ora Didol, Reformasi PBNU..!

Berita Terbaru