Nasionaldetik.com,– 27 Oktober 2026 Sejarah lahirnya Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, tidak dapat dilepaskan dari peran para tokoh perintis yang meletakkan fondasi pemerintahan jauh sebelum nama Purwakarta resmi dikukuhkan.
Salah satu sosok penting yang patut mendapat perhatian adalah Dalem Santri atau Raden Adipati Aria Soerianata, Bupati Karawang pada periode 1820–1827 di era kolonial Belanda.
Namanya mungkin belum banyak dikenal masyarakat luas. Namun, dalam rangkaian sejarah awal Purwakarta, Dalem Santri memiliki peran penting melalui kebijakan pemindahan ibu kota Kabupaten Karawang dari Bunut Kertajaya ke Wanayasa pada 1821.
Langkah tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah wilayah yang kemudian berkembang menjadi Kabupaten Purwakarta.
Dalam literasi sejarah Purwakarta, nama Dalem Sholawat atau Raden Adipati Aria Soeriawinata, Bupati Karawang di era kolonial ( 1828 – 1849 ) tercatat sebagai sosok sentral dibalik kelahiran nama PURWAKARTA yang kemudian dijadikan landasan peringatan Hari Jadi Purwakarta pada setiap tanggal 20 Juli, berdasarkan catatan Surat Keputusan / Besluit pemerintah kolonial Belanda tertanggal 20 Juli 1831 no. 2, yaitu tentang pengukuhan nama Purwakarta.
Namun keberadaaan Dalem Sholawat, di Purwakarta, yang saat itu berstatus sebagai ibukota kabupaten Karawang, tak lepas dari peranan kakak kandungnya, yaitu Dalem Santri atau Raden Adipati Aria Soerianata, Bupati Karawang di era kolonial ( 1820 – 1827 ) yang terlebih dahulu memimpin.
Jika, di tahun 1821, Dalem Santri tidak memindahkan Ibukota Kabupaten Karawang yang semula berpusat di Bunut Kertajaya ( wilayah di Kabupaten Karawang saat ini ) ke Wanayasa ( wilayah di Kabupaten Purwakarta saat ini ) maka tentunya cikal bakal berdirinya PURWAKARTA, sebagai entitas baru, tidak akan pernah terjadi.
Seperti halnya Dalem Sholawat yang merupakan nama julukan pemberian dari masyarakat pada saat itu, karena beliau rajin bersholawat dalam situasi apa pun, begitu pun Raden Adipati Aria Soerianata, beliau dijuluki DALEM SANTRI oleh masyarakat, karena kealimannya dalam beribadah.
Baik Dalem Santri maupun Dalem Sholawat keduanya memang dididik secara agamis sejak kecil.
Kakek mereka, Raden Muhammad Thohir merupakan tokoh ulama besar / aulia di Bogor.
Bupati pada masa itu memang tidak hanya berperan sebagai Umaro ( Pemimpin ) namun juga sebagai Ulama. Dalam filosofi Sunda/Jawa : “Bibit, Bebet, Bobot” atau garis keturunan menjadi faktor penting untuk sebuah jabatan publik, karena seorang pemimpin harus mampu menguasai segala hal, terutama cakap atau mumpuni dalam ilmu pemerintahan dan ilmu keagamaan.
Dalem Santri dan Dalem Sholawat, keduanya merupakan keturunan dari Trah Pajajaran yang berpusat di Bogor dan tersambung nasabnya ke Prabu Siliwangi Sri Baduga Maharaja melalui pihak sang kakek, Rd. Muhammad Thohir.
Sementara dari pihak sang nenek, Ratu Syarifah, berasal dari Trah Kesultanan Banten. Beliau cucu dari Sultan Ageng Tirtayasa penerus Raja Banten yang pertama, yaitu Sultan Maulana Hasanudin, putra dari Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah.
Dalem Santri memerintah di Wanayasa sekitar 6 tahun. Tentunya banyak jasa beliau di wilayah tersebut, salah satu peninggalannya adalah Mata Air Cibulakan, yang hingga saat ini masih berfungsi sebagai sarana pengairan, yang terletak di desa Babakan, Wanayasa, dan berjarak cukup dekat dengan makam beliau.
Pasca wafatnya Dalem Santri, estafet kepemimpinan dilanjutkan oleh Dalem Sholawat, adik kandungnya, sosok yang memindahkan ibukota Karawang dari Wanayasa ke wilayah Sindang Kasih pada tahun 1830, yang setahun kemudian bernama Purwakarta.
Terbaru, dalam sebuah Napak Tilas Kesejarahan, Wadah Silaturahmi Lintas Elemen Masyarakat, BELA PURWAKARTA, membersamai generasi ke- 7 dari Dalem Santri, yaitu Rd. Boyke Pranata Soerianata, yang baru tiba dari Amerika Serikat, tempatnya berkarir selama hampir 30 tahun.
Boyke, merupakan satu satunya Master Technician dari wilayah Asia Tenggara, yang berkiprah di Harley Davidson Company, di Sacramento, California.
Pada momentum “Pulang Kampung” kali ini, Boyke tidak hanya menziarahi makam leluhurnya, tetapi juga berencana akan menggelar Haul Dalem Santri di Wanayasa.
Founder BELA PURWAKARTA, Aa Komara, menyambut baik rencana tersebut.
Menurutnya, napak tilas sejarah merupakan langkah penting untuk memperkuat hubungan antargenerasi sekaligus memperkenalkan kembali tokoh-tokoh yang memiliki kontribusi dalam perjalanan daerah.
Dalam kegiatan silaturahmi dan ziarah tersebut, hadir sejumlah unsur pemerintahan dan masyarakat.
Di antaranya Kabag Protokol Pemda Purwakarta Hilman Nugraha, yang merupakan sepupu Boyke Soerianata, Camat Wanayasa Heru Agus Riyanto,Kasi Kesejahteraan Sosial Kecamatan Wanayasa Gunawan Adriana, Kepala Desa Wanayasa Makmur Hidayat, Wakil Ketua BPD Desa Wanayasa Rina Sri Nurbaeti; serta Kepala Desa Babakan Endin Sopyudin atau Ebet.
Dari BELA PURWAKARTA, turut hadir Ali Novel Magad, Humas Komite Sepeda Indonesia Kabupaten Purwakarta, Sahril Sidik atau Boriel, Humas BELPUR, Richo, koordinator Paguyuban Warga Banten Purwakarta, serta Uu Wijaya, pengurus Komunitas Iket Sunda (KIS ARTA) Kabupaten Purwakarta.
Kehadiran berbagai unsur tersebut mencerminkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, komunitas, keluarga keturunan tokoh sejarah, dan masyarakat dalam merawat warisan leluhur.
Kegiatan napak tilas tersebut juga diikuti Vera Novia, Duta Pariwisata Jawa Barat sekaligus Duta Batik Persahabatan Jawa Barat 2026, yang merupakan Mojang Kabupaten Purwakarta tahun 2024.
Keterlibatan Vera menjadi representasi partisipasi generasi muda dalam mengenal dan melestarikan sejarah daerah.
Founder BELA PURWAKARTA, Aa Komara, menilai kehadiran Vera memiliki makna penting dalam mendorong generasi muda untuk lebih memahami sejarah Purwakarta secara utuh.
“Kehadiran Vera Novia merupakan bentuk apresiasi yang mewakili Gen Z terhadap leluhur Purwakarta. Aktivitas ziarah ini sekaligus menjadi edukasi agar generasi penerus memahami sejarah Purwakarta secara utuh, terlebih bagi seorang Mojang atau Duta yang harus mampu menginformasikan kepada khalayak luas tentang Purwakarta secara detail, terutama dari aspek historis,” tutur Aa Komara.
Sementara itu, Vera Novia menilai kunjungan ke makam Dalem Santri bukan hanya menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur, melainkan juga membuka ruang untuk menggali potensi wisata religi di Kecamatan Wanayasa.
“Selain bentuk penghormatan terhadap leluhur, kunjungan ini sangat penting untuk menggali potensi pengembangan wisata religi,” ujar Vera.
Vera berharap, apabila kawasan makam Dalem Santri dikembangkan sebagai destinasi wisata religi dan sejarah pada masa mendatang, keberadaannya dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
“Tentunya ketika di masa depan situs keramat Dalem Santri ini menjadi destinasi wisata religi, maka akan memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal Desa Babakan dan Kecamatan Wanayasa serta Kabupaten Purwakarta pada umumnya, dengan banyaknya peziarah dari lintas kota atau provinsi ke lokasi ini “.Imbuhnya
Potensi pengembangan wisata religi juga mendapat perhatian Kepala Desa Babakan, Endin Sopyudin.
Kades Ebet sapaan akrab kepal Desa Babakan menyampaikan bahwa makam Dalem Santri hingga kini telah dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah, termasuk Karawang, Bogor, Bandung, bahkan Lamongan, Jawa Timur.
“Untuk saat ini saja makam Dalem Santri sudah sering diziarahi oleh masyarakat lintas kota, di antaranya dari Karawang, Bogor, Bandung, bahkan dari Lamongan, Jawa Timur,” ungkap Ebet.
Ebet optimistis, ke depan, potensi tersebut dapat dikembangkan melalui kolaborasi berbagai pihak, termasuk dengan menyusun paket perjalanan wisata religi yang menghubungkan sejumlah situs bersejarah dan tempat ziarah di Purwakarta.
Salah satu gagasan yang disampaikan adalah paket perpaduan perjalanan religi dengan rute Dalem Santri di Wanayasa, Syekh Baing Yusuf di Purwakarta, serta Mama Sempur di Kecamatan Plered.
Gagasan tersebut dapat menjadi peluang untuk memperkenalkan kekayaan sejarah dan tradisi keagamaan Purwakarta kepada masyarakat yang lebih luas.
Sinergitas dalam pelestarian makam makam para leluhur harus terus terjalin. Pemerintah, pihak keluarga ( keturunan sang tokoh ) serta masyarakat, diharapkan senantiasa membangun kolaborasi, karena merawat SEJARAH adalah kepentingan bersama.
Tim Redaksi




























