Jakarta, – NasionalDetik.Com –
Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) menggelar Kirab Merah Putih dan Parade Budaya Nusantara di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Minggu (25/10/2026), mulai pukul 07.00 WIB.Selasa, (27/10/2026)
Kegiatan ini digelar untuk memperingati Hari Santri Nasional sekaligus menyambut Hari Sumpah Pemuda 2026, dengan mengusung semangat persatuan, kebinekaan, kecintaan terhadap Tanah Air, serta Bela Negara, Jaga Bangsa, Lestarikan Pancasila, dan Merawat Tradisi Budaya Nusantara.
Ketua Umum PNIB, Abdur Rozaq Waluyo Wasis Nugroho atau Gus Wal, menegaskan Merah Putih bukan sekadar simbol negara, melainkan lambang persatuan seluruh rakyat Indonesia yang harus dijaga dari ancaman perpecahan.
Melalui kegiatan tersebut, PNIB mengajak masyarakat memperkuat komitmen kebangsaan serta menolak intoleransi, ideologi khilafah yang dinilai bertentangan dengan komitmen kebangsaan, terorisme, radikalisme, dan korupsi yang dianggap merusak kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Kader Muda PNIB Bacakan Ikrar Kebangsaan
Dalam kegiatan itu, kader muda PNIB, Algaza Albi Anggara dan Oscar Pendong, membacakan Ikrar Pemuda 2026 sebagai penegasan komitmen menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), merawat toleransi, serta melawan tindakan dan paham yang dinilai mengancam persatuan bangsa.
Ikrar tersebut menegaskan tiga poin utama:
Menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan bangsa, serta mengutamakan keutuhan dan keselamatan rakyat dan bangsa Indonesia.
Setia kepada Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika, dan Merah Putih.
Menolak dan melawan intoleransi, korupsi, narkoba, judi online (judol), khilafah, terorisme, radikalisme, anarkisme, dan premanisme.
Menurut PNIB, semangat Hari Santri dan Sumpah Pemuda perlu diwujudkan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar seremoni dan slogan.
Parade Budaya Angkat Tradisi Betawi
Selain Kirab Merah Putih, PNIB menghadirkan Parade Budaya Nusantara yang menampilkan ondel-ondel dan seni bela diri pencak silat khas Betawi. Penampilan tersebut menjadi bagian dari upaya mengangkat tradisi, budaya, dan kearifan lokal Betawi sebagai bagian dari kekayaan budaya nasional.
Gus Wal mengatakan, pelestarian budaya daerah merupakan salah satu cara menjaga identitas bangsa sekaligus memperkuat persaudaraan, toleransi, dan PNIB memandang tradisi budaya Nusantara sebagai bagian penting dari kehidupan bangsa yang perlu dirawat agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
PNIB Soroti Kebakaran Hutan dan Lahan
Dalam kesempatan tersebut, Gus Wal juga menyoroti persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurutnya, karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan keselamatan masyarakat, kesehatan publik, kelestarian ekosistem, dan tanggung jawab negara dalam melindungi rakyat.
PNIB mendesak pemerintah memperkuat upaya pencegahan, menegakkan hukum terhadap pelaku pembakaran, serta melakukan penanganan dan pemulihan wilayah terdampak secara serius dan berkelanjutan.
Selain itu, PNIB meminta pemerintah menetapkan karhutla sebagai bencana nasional.
Usulkan 16 November sebagai Hari Toleransi Nasional
PNIB juga mendorong pemerintah menetapkan 16 November sebagai Hari Toleransi Nasional. Usulan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan toleransi, menghormati perbedaan keyakinan dan latar belakang, serta mencegah diskriminasi dan kekerasan atas nama identitas.
PNIB memandang tradisi budaya Nusantara sebagai bagian penting dari kehidupan bangsa yang perlu dirawat agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
PNIB Soroti Kebakaran Hutan dan Lahan
Dalam kesempatan tersebut, Gus Wal juga menyoroti persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurutnya, karhutla bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan keselamatan masyarakat, kesehatan publik, kelestarian ekosistem, dan tanggung jawab negara dalam melindungi rakyat.
PNIB mendesak pemerintah memperkuat upaya pencegahan, menegakkan hukum terhadap pelaku pembakaran, serta melakukan penanganan dan pemulihan wilayah terdampak secara serius dan berkelanjutan.
PNIB mendesak pemerintah menetapkan karhutla sebagai bencana nasional dan mengusulkan 16 November sebagai Hari Toleransi Nasional. (Foto: PNIB)
Selain itu, PNIB meminta pemerintah menetapkan karhutla sebagai bencana nasional.
Usulkan 16 November sebagai Hari Toleransi Nasional
PNIB juga mendorong pemerintah menetapkan 16 November sebagai Hari Toleransi Nasional. Usulan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan toleransi, menghormati perbedaan keyakinan dan latar belakang, serta mencegah diskriminasi dan kekerasan atas nama identitas.
Baca Juga:
PNIB Gelar Kirab Merah Putih di Jakarta, Serukan Perlawanan terhadap Intoleransi dan Korupsi
Menurut PNIB, upaya memperkuat toleransi perlu diwujudkan melalui langkah konkret, sehingga tidak berhenti sebagai slogan, tetapi juga tercermin dalam kebijakan publik dan kehidupan sehari-hari.
Dalam pesan kebangsaan yang disampaikan melalui kegiatan tersebut, PNIB menekankan pentingnya menjaga persatuan di tengah perbedaan suku, agama, budaya, dan pandangan.
“Semangat Hari Santri dan Sumpah Pemuda harus menjadi energi untuk menjaga Indonesia tetap bersatu. Kita boleh berbeda suku, agama, budaya, dan pandangan, tetapi kita tetap satu bangsa. Merah Putih harus menjadi rumah bersama yang melindungi seluruh rakyat, bukan alat untuk memecah belah,” demikian pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.
Dukung Polri Bersama Masyarakat
Kirab Merah Putih dan Parade Budaya Nusantara ini merupakan kegiatan kelima yang digelar PNIB di Jakarta. Melalui kegiatan tersebut, PNIB menyatakan dukungan penuh kepada Polri dalam semangat “Polri Bersama Masyarakat”, dukung totalitas Polri melayani mengayomi melindungi Rakyat Indonesia dari sabang sampai merauke tanpa pandang bulu, ujar Gus Wal.
PNIB berharap kegiatan tersebut dapat mendorong kesadaran masyarakat bahwa menjaga keutuhan Indonesia merupakan tanggung jawab bersama. Menurut organisasi itu, upaya melawan intoleransi, terorisme, korupsi, dan tindakan yang mengancam persatuan perlu berjalan beriringan dengan pelestarian budaya, perlindungan lingkungan, serta penguatan solidaritas sosial.
Gus Wal menutup pesannya dengan mengajak masyarakat terus menjaga persatuan, merawat kebinekaan, dan melestarikan budaya Nusantara sebagai bagian dari komitmen bersama terhadap bangsa dan negara, perkuat Toleransi yang merupakan Identitas dan Jatidiri Bangsa Indonesia, Indonesia adalah negara demokrasi, mari sampaikan aspirasi dengan elegant dan mengutamakan dialog, jaga ketertiban umum, jaga fasilitas publik, jaga keselamatan rakyat dan keutuhan bangsa Indonesia, pungkas Gus Wal.
(Red)





























