Suara Hati Petani Kopi: Saat Pupuk Subsidi Menjadi Barang Langka di Argotirto. 

EDI SUPRIADI

- Redaksi

Sabtu, 27 Juni 2026 - 17:16 WIB

50121 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nasionaldeyik.com,— 27 Juni 2026 Apa yang sedang terjadi?
Di Desa Argotirto dan wilayah sekitarnya di Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, para petani kopi skala kecil sedang menghadapi masalah berat: pupuk bersubsidi yang seharusnya menjadi penopang utama usaha tani mereka kini sangat sulit didapatkan. Barang yang seharusnya tersedia dan terjangkau, justru menjadi barang langka yang sulit diburu, padahal kebutuhan untuk pemupukan tanaman sangat mendesak agar hasil panen tetap terjaga kualitas dan kuantitasnya. Banyak petani terpaksa menunda pemupukan, atau harus membeli pupuk non-subsidi dengan harga jauh lebih tinggi yang membebani kantong mereka.

Siapa yang merasakan dampaknya?
Ratusan petani kopi kecil dan keluarga mereka yang menggantungkan hidup dari perkebunan kopi di Desa Argotirto serta desa-desa tetangga se-Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Mereka adalah petani penggarap dengan lahan sempit, yang modalnya terbatas dan sangat bergantung pada bantuan pupuk bersubsidi agar biaya produksi tidak melonjak. Bagi mereka, kopi bukan sekadar tanaman, melainkan sumber penghidupan, biaya sekolah anak, dan sandang pangan sehari-hari. Ketika pupuk sulit didapat, seluruh tatanan ekonomi rumah tangga mereka ikut terguncang.

Di mana peristiwa ini berlangsung?
Persisnya di Desa Argotirto, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kesulitan ini tidak hanya melanda satu desa saja, melainkan merata ke seluruh wilayah sekitar kecamatan tersebut—menjadi keluhan umum yang terdengar dari satu dusun ke dusun lain di kawasan pegunungan yang subur ini, yang dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kopi andalan Kabupaten Malang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kapan masalah ini mulai terasa dan berlangsung?
Kesulitan mendapatkan pupuk subsidi ini sudah terasa semakin parah dalam beberapa waktu terakhir, bahkan menjadi keluhan utama petani di pertengahan tahun ini. Masalah ini tidak bersifat sesaat, melainkan berulang setiap kali musim pemupukan tiba, membuat petani selalu cemas dan gelisah menunggu ketersediaan barang yang tak kunjung pasti. Jadwal penyaluran yang tidak jelas dan stok yang sering kosong membuat mereka harus menunggu tanpa kepastian.

Mengapa hal ini bisa terjadi dan menjadi masalah besar?
Ada beberapa alasan yang dirasakan petani: stok pupuk yang disalurkan ke tingkat desa dinilai jauh lebih sedikit dibandingkan kebutuhan nyata para petani; distribusi yang tidak merata dan sering kali terlambat tiba di tangan yang berhak; serta adanya dugaan penyimpangan penyaluran yang membuat pupuk subsidi justru beredar di pasar bebas dengan harga mahal. Padahal, bagi petani kecil, pupuk subsidi adalah satu-satunya cara agar biaya tanam tetap terjangkau. Tanpa pupuk yang cukup, pertumbuhan tanaman kopi terhambat, buah menjadi kecil, dan hasil panen menurun drastis—yang berarti pendapatan mereka pun berkurang tajam, padahal harga jual kopi sering kali tidak menentu.

Bagaimana dampaknya dan apa yang diharapkan petani?
Saat ini, para petani terpaksa berjuang keras: ada yang berhutang uang untuk membeli pupuk mahal, ada yang mengurangi dosis pemupukan sehingga tanaman kurang terawat, dan ada pula yang harus membiarkan tanaman mereka tumbuh seadanya saja. Rasa cemas dan kecewa menyelimuti hati mereka, karena mereka sudah bekerja keras merawat tanaman dari pagi hingga sore, namun terhambat oleh hal yang seharusnya terjamin. Suara hati mereka sederhana: mereka berharap penyaluran pupuk subsidi kembali lancar, jumlahnya sesuai kebutuhan, tepat waktu, dan benar-benar sampai ke tangan petani kecil yang berhak. Mereka ingin terus berjuang menanam kopi dengan tenang, agar hasil bumi dari tanah Argotirto dan Sumbermanjing Wetan tetap menjadi kebanggaan, dan mereka pun bisa menghidupi keluarga dengan layak lewat keringat dan kerja keras mereka sendiri.

Tim Redaksi

Berita Terkait

Perumahan Taman Toraja Mandiri Kelola Lingkungan: 800 Unit Yang Terhuni 450 Unit Rumah Perlu Perhatian Serius Armada Kebersihan
PRAJURIT KODIM 0210/TU: “KAMI SAYANG SAMA KALIAN, JANGAN LEPAS MASKER SAAT BEPERGIAN DAN BERAKTIVITAS DI LUAR RUMAH”
KORAMIL JAJARAN KODIM 0210/TU GERAK CEPAT SEBAR SELEBARAN PENERIMAAN CALON PRAJURIT TNI
Satukan Langkah Membangun Negeri, Dansatgas TMMD Ke-130 Kodim 0206/Dairi Fokus Buka Akses Desa
Dari Sibongkaras untuk Indonesia, TMMD ke-130 Hadirkan Pembangunan yang Menyentuh Desa
Empat Hari di Sibongkaras, Satgas TMMD Ke-130 Terus Berpacu Membuka Akses Jalan Desa
Baru Empat Hari, Pembukaan Jalan TMMD ke-130 Kodim 0206/Dairi Capai 530 Meter di Sibongkaras
Keroyok Pengerjaan RTLH, Satgas TMMD Ke-130 Kodim 0206/Dairi Bergerak Cepat di Sibongkaras

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 09:02 WIB

Bupati Karo Sampaikan Perubahan Kedua Propemperda 2026 dan Usulkan 19 Ranperda untuk Tahun 2027

Minggu, 18 Oktober 2026 - 08:56 WIB

Bupati Karo Dorong Pembenahan Drainase Untuk Antisipasi Genangan Saat Hujan

Minggu, 18 Oktober 2026 - 08:26 WIB

Polsek Kutabuluh Laksanakan Subuh Keliling, Perkuat Silaturahmi dan Sampaikan Pesan Kamtibmas

Minggu, 18 Oktober 2026 - 08:20 WIB

Polri Bersama Masyarakat, Polsek Berastagi Sapa Warga dan Bantu Pendataan Masyarakat Kurang Mampu

Minggu, 18 Oktober 2026 - 01:13 WIB

Raja Edward Sebayang Turun ke Uruk Biru Pametar, Serap Aspirasi Petani dan Dorong Percepatan Pembangunan Jalan Usaha

Jumat, 16 Oktober 2026 - 15:59 WIB

Green Policing – Cegah Tanah Longsor, Polres Karo Tanam 100 Pohon di Desa Sukandebi

Jumat, 16 Oktober 2026 - 15:54 WIB

Waka Polres Karo Gelar Jumat Keliling di Masjid Al Ikhlas, Ajak Jemaah Jaga Kamtibmas

Jumat, 16 Oktober 2026 - 15:43 WIB

Polsek Barusjahe Sosialisasikan Bahaya Narkoba Kepada Masyarakat Desa Tangkidik

Berita Terbaru