“Menghormati Kiai, Menolak Feodalisme: Kebenaran Lebih Tinggi dari Nasab”

EDI SUPRIADI

- Redaksi

Jumat, 19 Juni 2026 - 11:56 WIB

5035 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Oleh: Dr. H. Ahmad Fahrur Rozi ( Alumni Pesantren Lirboyo )

Nasionaldetik.com,— 19 Juni 2026
Sebagai pengasuh pesantren yang telah puluhan tahun mendampingi santri dan berinteraksi dengan berbagai lapisan masyarakat, saya melihat ada satu gejala yang patut menjadi perhatian bersama, yaitu munculnya budaya kultus individu dan glorifikasi berlebihan terhadap tokoh tertentu.

Gejala ini tidak hanya muncul di dunia politik, tetapi juga merambah ke lingkungan sosial dan keagamaan. Seseorang dipandang selalu benar bukan karena argumentasinya kuat, melainkan karena status keluarganya, garis keturunannya, atau karena ia merupakan anak dari seorang tokoh yang dihormati.

Sebagai orang pesantren, saya sangat memahami pentingnya adab kepada guru, kiai, dan para ulama. Saya sendiri dididik untuk menghormati para masyayikh dan menjaga akhlak kepada orang-orang yang berjasa dalam dakwah dan pendidikan umat. Namun penghormatan tidak boleh berubah menjadi pengkultusan. Adab tidak boleh mematikan akal sehat. Hormat tidak boleh menghilangkan kemampuan membedakan antara yang benar dan yang salah.

Dalam Islam, tidak ada manusia yang ma’shum selain para nabi dan rasul. Kiai, gus, habib, ustaz, pejabat, maupun tokoh masyarakat adalah manusia biasa yang bisa benar dan bisa salah. Karena itu, ukuran kebenaran tidak boleh bergantung pada siapa yang berbicara, melainkan pada isi pembicaraannya.

Saya sering mengingatkan para santri bahwa menjadi anak kiai adalah kehormatan, tetapi bukan jaminan kebenaran. Menjadi seorang “gus” adalah amanah, bukan hak istimewa yang membuat seseorang bebas dari kritik. Kemuliaan seseorang di sisi Allah tidak ditentukan oleh siapa ayahnya, melainkan oleh ketakwaan dan amal perbuatannya.

Al-Qur’an menegaskan bahwa yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa, bukan yang paling tinggi nasabnya. Karena itu, tidak boleh ada anggapan bahwa seorang tokoh atau anak tokoh harus selalu dibenarkan apa pun yang dilakukannya.

Sejarah Islam memberikan pelajaran yang sangat berharga dalam hal ini.

Khalifah Umar bin Khattab pernah menerima pengaduan dari seorang rakyat biasa yang dipukul oleh anak seorang pejabat karena merasa dirinya lebih mulia. Umar tidak membela pelaku karena kedudukan keluarganya. Beliau justru memanggil pelaku, memberikan hak kepada korban untuk memperoleh keadilan, lalu menegur keras pelaku dan keluarganya dengan kalimat yang terkenal:

“Sejak kapan kalian memperbudak manusia, padahal ibu-ibu mereka telah melahirkan mereka dalam keadaan merdeka?”

Kalimat itu merupakan deklarasi keadilan yang melampaui zamannya. Umar ingin menegaskan bahwa tidak ada manusia yang boleh merasa lebih tinggi dari manusia lain hanya karena keturunan atau kedudukannya.

Rasulullah ﷺ bahkan memberikan teladan yang lebih tegas lagi. Ketika ada upaya agar seorang perempuan bangsawan dibebaskan dari hukuman karena status sosialnya, beliau bersabda:

“Demi Allah, seandainya Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku sendiri yang akan memotong tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Fatimah adalah putri yang paling dicintai Rasulullah ﷺ. Namun kecintaan itu tidak menghalangi beliau untuk menegakkan prinsip keadilan. Tidak ada perlakuan istimewa dalam urusan kebenaran dan hukum.

Karena itulah saya merasa prihatin ketika melihat masih ada sebagian orang yang menganggap kritik kepada tokoh tertentu sebagai dosa, sementara semua ucapan dan tindakannya dianggap benar tanpa perlu diuji dengan ilmu dan akal sehat.

Tradisi seperti ini bukan tradisi Islam. Islam mengajarkan tabayyun, musyawarah, dan amar ma’ruf nahi munkar. Para sahabat Nabi pun saling mengingatkan ketika terjadi kekeliruan. Tidak ada budaya menyembah figur. Yang ada adalah budaya menghormati orang saleh sekaligus tetap berpegang teguh pada kebenaran.

Zaman sekarang masyarakat juga semakin terdidik. Mereka mampu menilai suatu persoalan secara lebih objektif. Mereka tidak lagi menerima suatu pendapat hanya karena siapa yang mengucapkannya, tetapi karena kekuatan dalil, logika, dan manfaatnya bagi umat.

Menurut saya, ini adalah perkembangan yang sehat. Sebab organisasi, pesantren, maupun masyarakat hanya akan maju apabila dibangun di atas budaya ilmu, keterbukaan, dan tanggung jawab, bukan di atas fanatisme kepada individu.

Menghormati kiai adalah adab. Menghargai jasa para ulama adalah kewajiban moral. Tetapi membenarkan semua tindakan seseorang hanya karena ia anak kiai bukanlah ajaran Islam. Loyalitas kepada individu tidak boleh mengalahkan loyalitas kepada kebenaran.

Sudah saatnya kita meninggalkan sisa-sisa budaya feodalisme yang tidak sejalan dengan semangat Islam. Kita perlu membangun budaya yang lebih egaliter, lebih rasional, dan lebih dewasa. Budaya yang menghormati ilmu, menghargai prestasi, menerima kritik, dan menempatkan semua orang sama di hadapan hukum serta kebenaran.

Pada akhirnya, di hadapan Allah tidak ada manusia yang diadili berdasarkan nama besar keluarganya. Yang dinilai adalah iman, akhlak, amanah, dan amal perbuatannya.

Hormatilah para kiai karena ilmunya. Hormatilah para gus karena akhlaknya. Tetapi jangan pernah mengorbankan kebenaran demi fanatisme kepada manusia. Sebab manusia bisa salah, sedangkan kebenaran harus tetap ditegakkan.

Tim Redaksi

Berita Terkait

BEM PTNU Se-Nusantara Minta Pemerintah Serius Perangi Oligarki dan Tegakkan Amanat Pasal 33 UUD 1945
Dugaan Keterlibatan Perangkat Desa dan Pembiaran Aparat, Aktivitas PETI di Merangin Menantang Hukum
Ketua DPD MAUNG Riau Minta Kemenhub Pecat Kepala KSOP Dumai Jika Terbukti Langgar Aturan
DPC MAUNG Bengkulu Utara: BPK Sudah Beri Bukti, Sekarang Giliran Penegak Hukum Bertindak
AWI DPC Banyuwangi Soroti Dugaan Tambang Pasir Ilegal, Minta Penegakan Hukum Tanpa Tebang Pilih
Babinsa Koramil 07/Salak Gembleng Pramuka SDN 030415 Binanga Boang, Tanamkan Disiplin dan Karakter Sejak Dini
Komsos Penuh Kekeluargaan, Babinsa Ajak Warga Lindungi Generasi Muda dari Ancaman Narkoba
TNI Hadir untuk Rakyat, Babinsa 04/Tigalingga Monitoring Penyaluran BLT Dana Desa Hingga Tuntas

Berita Terkait

Jumat, 19 Juni 2026 - 13:58 WIB

Terlantar di Kamboja, Kondisi Sakit Parah, Pasutri Asal Karo Dibantu DPD IPK Pulang Ke Bumi Turang

Kamis, 18 Juni 2026 - 23:06 WIB

Kapolres Karo Berikan Arahan kepada Kapolsek, Kanit Binmas dan Bhabinkamtibmas Jajaran Polres Karo

Kamis, 18 Juni 2026 - 22:46 WIB

Sindikat Curanmor Antar Wilayah Dibongkar, Empat Pelaku Ditangkap Unit Reskrim Polsek Berastagi

Kamis, 18 Juni 2026 - 22:35 WIB

Kapolres Karo Dukung Atlet Taekwondo Berlaga di Kejuaraan Nasional Palembang

Rabu, 17 Juni 2026 - 22:14 WIB

Bupati Karo Sambut Tim Monitoring TP PKK Provinsi Sumatera Utara di Desa Mulawari, Dorong Optimalisasi Desa Percontohan UP2K untuk Kesejahteraan Keluarga

Rabu, 17 Juni 2026 - 22:03 WIB

Desa Deram Ikuti Penilaian Desa Percontohan Pelaksana 10 Program Pokok PKK Kategori Tertib Administrasi PKK

Rabu, 17 Juni 2026 - 21:54 WIB

Bupati Karo Sambut Tim Monitoring TP PKK Provinsi Sumatera Utara di Desa Temburun

Rabu, 17 Juni 2026 - 21:32 WIB

Jelang Hari Bhayangkara ke-80, Bhayangkari Sumut Resmikan Sumur Bor dan Listrik di SD Terpencil Karo

Berita Terbaru