TULUNGAGUNG ,Nasionaldetik.com – Semangat generasi muda dalam menjaga kelestarian seni budaya tradisional terus tumbuh di Kabupaten Tulungagung. Hal tersebut terlihat dalam peringatan Hari Wayang Nasional 2026 yang dikemas melalui pagelaran wayang kulit kolaborasi lintas genre, pembukaan pameran keris, serta bazar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di kawasan Titik Nol Kilometer Kota Tulungagung, Jumat (6/11/2026) malam.
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi Kabupaten Tulungagung ke-821 tersebut tidak sekadar menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk menunjukkan eksistensi sekaligus melanjutkan estafet seni pedalangan.
Salah satu perhatian utama dalam kegiatan ini tertuju pada Perkumpulan Dalang Anom/Muda Tulungagung (Pakundatu), komunitas yang menjadi wadah berkumpulnya para dalang muda untuk saling mendukung, mengembangkan kreativitas, serta menjaga keberlangsungan seni pewayangan di Kabupaten Tulungagung.
Ketua Pakundatu dalam sambutannya menyampaikan bahwa komunitas tersebut lahir pada 2023 dari semangat sejumlah dalang muda yang memiliki cita-cita sama, yakni menyatukan generasi penerus seni pedalangan agar tetap guyub, rukun, dan bersama-sama mengembangkan kebudayaan daerah.
Perjalanan Pakundatu dalam memperingati Hari Wayang Nasional dimulai pada 2024. Saat itu, kegiatan pertama diselenggarakan secara mandiri di Desa Karangsari, Kecamatan Rejotangan, tepatnya pada 7 November 2024.
Semangat tersebut berlanjut pada 2025 melalui penyelenggaraan kegiatan di Balai Desa Tenggur, Kecamatan Rejotangan. Hingga akhirnya, pada tahun ketiga pelaksanaan, Pakundatu mendapatkan kesempatan menggelar kegiatan di pusat Kabupaten Tulungagung, tepatnya di kawasan Titik Nol Kilometer.
“Perjalanan ini menjadi sebuah perjuangan sekaligus kebanggaan bagi kami. Harapan kami, kegiatan Hari Wayang Nasional dapat terus berkelanjutan setiap tahun dan menjadi ruang bagi generasi muda untuk berkarya, berkreasi, serta melestarikan seni pedalangan,” ungkapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Pakundatu juga mempersembahkan pagelaran wayang kulit kolaborasi yang memadukan tiga bentuk pertunjukan, yakni wayang kulit, wayang Sandosa, dan wayang orang.
Kolaborasi tersebut menjadi salah satu upaya menghadirkan inovasi dalam seni pertunjukan tradisional agar lebih menarik dan dekat dengan kehidupan generasi masa kini, tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur budaya leluhur.
Dukungan terhadap pelestarian seni budaya juga ditunjukkan Pemerintah Kabupaten Tulungagung melalui penyerahan dokumen legalitas organisasi Pakundatu oleh Plt. Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, di sela kegiatan pagelaran.
Penyerahan legalitas tersebut menjadi bentuk pengakuan sekaligus dukungan pemerintah daerah terhadap keberadaan organisasi dalang muda agar semakin berkembang dan memiliki ruang lebih luas dalam menjalankan kegiatan kesenian.
Dalam sambutannya yang disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Tulungagung, Tri Hariadi, Plt. Bupati Ahmad Baharudin menyampaikan apresiasi kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, panitia penyelenggara, para seniman, budayawan, komunitas keris, pelaku UMKM, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan kegiatan tersebut.
Menurutnya, wayang bukan hanya sekadar tontonan, melainkan juga tuntunan yang mengandung nilai-nilai kehidupan, filosofi, dan pendidikan yang perlu diwariskan kepada generasi penerus.
Konsep pagelaran kolaborasi lintas genre dinilai menjadi salah satu bentuk inovasi untuk menjaga seni pewayangan agar tetap hidup dan diminati masyarakat di tengah perkembangan zaman.
Tidak hanya berfokus pada pelestarian seni pedalangan, kegiatan tersebut juga dirangkai dengan pameran keris yang memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal lebih dekat warisan budaya bangsa yang memiliki nilai sejarah, seni, filosofi, dan spiritualitas.
Sementara itu, bazar UMKM turut menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan. Kehadirannya memberikan ruang promosi bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan produk unggulan Tulungagung sekaligus memperluas peluang pemasaran.
Suasana semakin semarak dengan kehadiran duo pelawak nasional Jo Klitik dan Jo Klutuk yang menghibur masyarakat. Ribuan warga tampak memadati kawasan Titik Nol Kilometer untuk menikmati rangkaian pertunjukan budaya tersebut.
Melalui kegiatan ini, Pemkab Tulungagung melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata berupaya menyatukan tiga aspek penting pembangunan daerah, yakni pelestarian budaya, pengembangan kreativitas generasi muda, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Semangat yang ditunjukkan Pakundatu menjadi bukti bahwa regenerasi seni tradisional membutuhkan keterlibatan generasi muda, dukungan para seniman senior, serta perhatian pemerintah daerah.
Dengan demikian, wayang tidak hanya menjadi warisan budaya yang dikenang, tetapi juga kesenian yang terus tumbuh, berkembang, dan memiliki masa depan di Kabupaten Tulungagung.
Tulungagung Jaya, Tulungagung Lestari, Tulungagung Maju Bersama.
Reportet : Robi
Editor : Admin






























