PRAJURIT TNI-AD DARI SATUAN TEPBEK I/5.B TARUTUNG BEKANG KODAM I/BUKIT BARISAN YANG BERTUGAS DI WILAYAH KODIM 0210/TAPANULI UTARA MEMPERSUNTING GADIS PUJAAN DARI PELOSOK DESA DAN MASIH MENGHORMATI ADAT BUDAYA SERTA TRADISI DAERAHNYA

Nur Kennan Br Tarigan

- Redaksi

Selasa, 27 Oktober 2026 - 01:09 WIB

5039 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Padang Sidempuan, Nasionaldetik.com

— Dibilang lupa, aku tak lupa; dibilang sirna, dia tak sirna. Banyak ragam cerita dan kisah hidup manusia yang semuanya itu merupakan perjalanan hidup anak manusia di alam dunia. Mulai dari beragamnya bangsa dan suku, baik laki-laki maupun perempuan, semuanya mengarungi perjalanan hidup dengan berlatar belakang bermacam-macam adat dan budaya.

Singkat cerita, seorang pemuda desa dari pelosok nun jauh di sana, tepatnya di sebuah desa di Joring Lombang, Kecamatan Padangsidimpuan Angkola Julu, Kota Padangsidimpuan, lahirlah seorang anak manusia yang bernama Nanda Supriadi Hasibuan. Waktu terus berjalan hingga ia memutuskan arah hidupnya untuk mengabdi kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD). Hingga saat ini, Nanda Supriadi Hasibuan dengan pangkat Prajurit Satu (Pratu) berdinas di Satuan Tempat Pembekalan Angkutan (Tepbek) I/5.B Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Satuan Tepbek Tarutung bertugas melayani satuan-satuan TNI, antara lain Kodim 0210/TU yang dikomandoi oleh Letkol Arm Kiky Hardian, S.Sos., serta Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) 955/Hoda Sihapaspilidi yang berada di wilayah Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas). Komandan yang diberi kepercayaan oleh negara untuk memimpin satuan tersebut adalah Letkol Inf. Heryanto Sinaga, S.Hub.Int., M.Tr.Opsla., termasuk juga melayani satuan-satuan TNI lainnya.

Terlepas dari status Pratu Nanda Supriadi sebagai seorang prajurit TNI-AD yang merupakan putra pertama dari Bapak Hairun Hasibuan dan Ibu Yusna Hara Harahap, sebagai manusia biasa ia juga mempunyai hak dan kesempatan untuk memilih tambatan hatinya untuk dijadikan istri sekaligus pendamping hidup. Mereka akan menjadi pasangan suami istri yang kelak menjalani kehidupan di lingkungan keluarga, masyarakat, satuan, bangsa, dan negara. Adapun sang pujaan hati sekaligus istri tercinta bernama Riska Rahayu Harahap, A.Md.Keb., anak keempat dari Bapak Jaswan Harahap dan Ibu Daniah.

Selain itu, Riska Rahayu Harahap, A.Md.Keb., telah memutuskan untuk menjadi istri seorang anggota TNI dan harus mampu menjadi pendamping yang setia baik dalam suka maupun duka, serta dapat menjadi pendorong dan pembangkit semangat bagi Pratu Nanda Supriadi Hasibuan dalam melaksanakan tugas yang diemban dari satuan, bangsa, dan negara. Akhirnya, atas izin dan takdir dari Allah Subhanahu Wata’ala serta restu dari kedua orang tua, sang prajurit petarung tersebut memutuskan untuk menikahi gadis pujaan hatinya. Tak terasa waktu terus berjalan hingga sampailah pada acara puncak di kediaman bapak mertua Pratu Nanda Supriadi Hasibuan, di mana dilaksanakan prosesi akad dan resepsi pernikahan yang menandai sahnya mereka berdua sebagai pasangan suami istri, baik secara agama Islam maupun secara kedinasan.

Ada yang menarik pada hari pernikahan tersebut. Pratu Nanda Supriadi Hasibuan, yang merupakan Abituren Tamtama Prajurit Karier Tahun 2020 (Artaduma), mendapat kehormatan dari satuan tempatnya berdinas. Di sela-sela acara pernikahan, dilangsungkan Tradisi Sangkur Pora yang merupakan wujud kepedulian dari Satuan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD), tepatnya Satuan Tempat Pembekalan Angkutan (Tepbek) I/5.B Tarutung, di bawah pimpinan Kapten Cba Ribut (Abituren Secaba Umum/PK 3 Senapati 95/96). Satuan tersebut berada di bawah garis komando Pembekalan dan Angkutan Komando Daerah Militer I/Bukit Barisan (Bekangdam I/BB), yang saat ini dipimpin oleh Kolonel Cba Tito Simanjuntak, S.H. (lulusan Akademi Militer tahun 1998) yang diberikan mandat dan kepercayaan oleh negara untuk memimpin satuan Badan Pelaksana Kodam I/Bukit Barisan tersebut.

Acara Tradisi Sangkur Pora berjalan dengan khidmat, aman, damai, tertib, dan lancar. Keluarga serta masyarakat yang melihat secara langsung merasa sangat gembira, bangga, dan kagum atas tradisi tersebut yang dilaksanakan pada resepsi pernikahan itu.

Perlu kita ketahui bersama bahwa Tradisi Sangkur Pora di lingkungan Tentara Nasional Indonesia dilaksanakan bagi prajurit TNI berpangkat Tamtama dan Bintara. Sementara itu, bagi yang berpangkat Perwira, acara tradisinya disebut dengan Tradisi Pedang Pora. Begitulah secara singkat tradisi pernikahan di lingkungan TNI. Artinya, prosesi pernikahan yang dilakukan tentunya mempunyai makna dan filosofi tersendiri yang menunjukkan eratnya rasa persaudaraan, persahabatan, semangat persatuan dan kesatuan, serta tingginya jiwa korsa sesama prajurit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat di mana pun berada dan bertugas.

Apabila rangkaian pernikahan diisi dengan mengikuti adat istiadat serta budaya masing-masing daerah, prosesi pernikahan dari Sabang sampai Merauke tentu memiliki corak ragam budaya yang berbeda-beda. Namun, bila kita merujuk dan memaknainya pada filosofi yang sering disebut dengan kata Bhinneka Tunggal Ika — yang berasal dari bahasa Jawa Kuno (Sansekerta) yang memiliki arti “Walaupun kita berbeda-beda, namun kita tetap satu jua” — makna yang sangat mendalam tersebut mengharuskan kita, meskipun berlatar belakang suku dan bahasa yang berbeda, untuk tetap bersatu di dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Siapa sangka, perjalanan singkat pernikahan Pratu Nanda Supriadi Hasibuan berlanjut menuju kediaman orang tua kandungnya, tepatnya di Desa Joring Lombang, Kecamatan Padangsidimpuan Angkola Julu, Kota Padangsidimpuan, Kabupaten Tapanuli Selatan, yang merupakan wilayah teritorial Kodim 0212/Tapanuli Selatan yang saat ini dipimpin oleh Letkol Inf. Dedi Harnoto, S.I.P.

Di kampung halaman Pratu Nanda Supriadi Hasibuan, dilangsungkan acara adat istiadat suku Batak Mandailing selama tiga hari berturut-turut. Suasana begitu senang, gembira, dan khidmat, mulai dari acara mapasu-pasu, pemberian nasihat kepada kedua mempelai dari orang tua dan keluarga, hingga acara adat manortor yang diiringi oleh musik tradisional gondang topap, ogung jantan, saleot, serta suling, yang menambah keindahan tarian ala Batak Mandailing dan membuat suasana hati semakin senang dan gembira.

Begitu banyaknya suku yang diciptakan Allah Subhanahu Wata’ala di seluruh dunia, termasuk di Negara Kesatuan Republik Indonesia seperti suku Jawa, Sunda, Aceh, Batak Toba, Batak Mandailing, Minangkabau (Padang), Karo, Nias, Ambon, Asmat, Madura, Bugis, Tidung, Dayak, Papua, Melayu Deli, dan banyak lagi yang lainnya. Oleh karena itu, prajurit TNI dari Sabang sampai Merauke tentunya juga mempunyai latar belakang yang berbeda-beda, termasuk Pratu Nanda Supriadi Hasibuan, seorang prajurit TNI-AD dari Satuan Tempat Pembekalan (Tepbek) I/5.B Tarutung, Bekangdam I/Bukit Barisan.

Ia tak mau ketinggalan dalam mengabadikan momen bahagianya, mulai dari acara akad nikah, Sangkur Pora, hingga acara adat istiadat yang merupakan budaya dan warisan leluhur dari tanah kelahirannya di Desa Joring Lombang, Kecamatan Padangsidimpuan Angkola Julu, Kota Padangsidimpuan, Kabupaten Tapanuli Selatan, Provinsi Sumatera Utara.

“Aku serta kita semua takkan mungkin melupakan adat istiadat yang merupakan budaya leluhur indatu moyang secara turun-temurun.”

Melalui resepsi pernikahan ini, sebagai prajurit TNI-AD kami ingin budaya dan adat istiadat di seluruh daerah di Negara Kesatuan Republik Indonesia tetap terjaga dan terus dilestarikan sebagai bagian dari penjagaan kearifan lokal, serta menjadi momen penting dan berharga dalam menghormati dan mencintai warisan adat istiadat dan budaya bangsa Indonesia.

Ada satu hal menarik dan tak boleh dilupakan bahwa di Kabupaten Tapanuli Selatan juga terdapat tokoh-tokoh penting, antara lain:

  1. Tokoh Militer dan Pahlawan NasionalJenderal Besar TNI (Purn.) Abdul Haris Nasution, lahir di Kotanopan (dahulu bagian dari Tapanuli Selatan/Mandailing Natal) pada tanggal 3 Desember 1918. Selain beliau, pangkat Jenderal Besar (bintang lima) juga diberikan kepada dua tokoh militer Indonesia lainnya, yaitu Jenderal Besar Soedirman dan Jenderal Besar Soeharto (Presiden Republik Indonesia kedua). Beliau adalah pencetus strategi Perang Gerilya (dalam bukunya yang berjudul Pokok-Pokok Gerilya). Jabatan yang pernah disandangnya antara lain Panglima Divisi Siliwangi, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), dan Ketua MPRS. Selain itu, beliau merupakan target yang selamat dari peristiwa tragis G30S/PKI pada tahun 1965, meskipun putri kandungnya, Ade Irma Suryani Nasution, gugur akibat tragedi tersebut.

  2. Letnan Sahala Muda Pakpahan (Mamang Sahala) Berasal dari Sipirok, Tapanuli Selatan. Perannya sebagai Komandan Angkatan Gerilya Sipirok (AGS) pada masa Revolusi Fisik (1946–1949) dikenal luas. Beliau adalah pejuang muda yang berani memimpin perlawanan gigih terhadap pasukan kolonial Belanda di wilayah Tapanuli Selatan hingga dijuluki sebagai “Harimau dari Tanah Sipirok” atau “Naga Bonar dari Tano Angkola”.

  3. Muda Siregar (bergelar Sutan Doli) Bupati pertama Kabupaten Tapanuli Selatan yang memimpin pada periode awal pembentukan kabupaten, yaitu dari tahun 1950 hingga 1951. Berikut adalah beberapa fakta singkat mengenai kepemimpinan beliau:

    • Pionir Pemerintahan: Sebelum resmi menjadi Bupati pasca-pembentukan kabupaten, Muda Siregar sudah dipercaya memimpin wilayah Tapanuli Selatan sebagai kepala daerah pada masa-masa krusial Agresi Militer Belanda.

    • Karier Birokrasi: Beliau memiliki rekam jejak birokrasi yang panjang di wilayah Sumatra Utara, di antaranya pernah menjabat sebagai Residen Sumatra Timur (1951) dan Wali Kota Medan (1954).

Jika kita melihat prosesi akad nikah yang dipadukan dengan berbagai adat istiadat dan budaya di Indonesia, misalnya pada resepsi pernikahan pejabat tinggi negara—kita ambil contoh resepsi pernikahan putra dari Presiden ke-6 Republik Indonesia, Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, dan Ibu Negara (Almarhumah Hj. Ani Yudhoyono)—putra pertama beliau, Dr. H. Agus Harimurti Yudhoyono, M.Sc., M.P.A., M.A. (yang saat ini mendapat amanah dan kepercayaan dari negara menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan dalam Kabinet Merah Putih di bawah kepemimpinan Presiden Republik Indonesia ke-8, Jenderal TNI (Purn.) (HOR) Prabowo Subianto)—bersama istri tercinta, Annisa Pohan, tepat pada tanggal 8 Juli 2005 menggelar resepsi pernikahan dengan menggunakan perpaduan adat Jawa (Yogyakarta) dan tradisi militer Pedang Pora, mengingat saat itu Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono menjabat sebagai Presiden ke-6 Republik Indonesia.

Berikut adalah rincian tradisi dan adat istiadat yang dilaksanakan dalam momen pernikahan tersebut:

I. Rangkaian Prosesi Adat Jawa Untuk menjaga efisiensi waktu karena Presiden ke-6 RI tidak mengambil cuti kerja, beberapa item dalam prosesi adat Jawa dipangkas dan hanya menyisakan bagian yang paling sakral, antara lain:

  1. Prosesi Siraman: Digelar pada 7 Juli 2005 malam. Siraman untuk Dr. H. Agus Harimurti Yudhoyono dilaksanakan di kediaman pribadi Cikeas, sementara Annisa Pohan melaksanakannya di kediaman orang tuanya. Ritual ini melambangkan pembersihan diri lahir dan batin.

  2. Sungkeman: Momen khidmat dan penuh haru ketika Dr. H. Agus Harimurti Yudhoyono meminta doa restu kepada ayahanda tercinta Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono dan ibunda tercinta Almarhumah Hj. Ani Yudhoyono, begitu pula Annisa Pohan kepada orang tuanya sebelum akad nikah.

  3. Akad Nikah dengan Pakaian Tradisional: Dilangsungkan pada 8 Juli 2005 dengan mengusung adat Jawa yang kental. Annisa Pohan tampil anggun mengenakan riasan paes ageng khas Yogyakarta dan kebaya, sementara Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono beserta keluarga inti mengenakan beskap dan kain batik Jawa yang seragam.

II. Tradisi Militer Pedang Pora Selain adat tradisional suku Jawa, pernikahan ini juga diwarnai tradisi militer yang kuat. Karena pada saat itu Dr. H. Agus Harimurti Yudhoyono merupakan perwira muda TNI Angkatan Darat berpangkat Letnan Satu (Lettu), resepsi pernikahan dilengkapi dengan upacara Pedang Pora, di mana para perwira militer membentuk gapura bersilangan menggunakan pedang sebagai simbol penghormatan dan selamat datang bagi kedua mempelai.

III. Makna Kemajemukan Adat Meskipun prosesi didominasi adat Jawa dari keluarga Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, pernikahan ini di kemudian hari sering disebut oleh Dr. H. Agus Harimurti Yudhoyono sebagai simbol keberagaman dan kemajemukan, mengingat Annisa Pohan memiliki latar belakang keturunan campuran Sumatra Utara (Batak) dan Jawa Timur.

Artinya, sebagai Presiden ke-6 RI saat itu, Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono beserta keluarganya sangat menghormati warisan budaya dari garis keturunan atau leluhur, serta adat istiadat dan ragam budaya yang ada di seluruh tanah air Indonesia.

Pada hakikatnya, adat istiadat dan ragam budaya di Negara Kesatuan Republik Indonesia sejak presiden pertama, Ir. H. Soekarno, hingga Presiden ke-8, Jenderal TNI (Purn.) (HOR) Prabowo Subianto, senantiasa dihormati oleh para pemimpin bangsa yang mendapat mandat dari rakyat Indonesia. Para pemimpin tersebut sangat menghargai adat istiadat dan budaya sebagai warisan pendahulu bangsa. Artinya, semua komponen bangsa harus tetap menjunjung tinggi adat istiadat dan budaya serta berusaha menjaga dan merawat budaya daerah masing-masing karena hal tersebut merupakan ciri khas serta kearifan lokal yang tidak boleh dilupakan oleh seluruh lapisan masyarakat di penjuru tanah air.

Oleh karena itu, Presiden Republik Indonesia Jenderal TNI (Purn.) (HOR) Prabowo Subianto bersama Menteri Kebudayaan Fadli Zon baru-baru ini melaksanakan sejumlah kegiatan penting terkait kebudayaan, seni, dan permuseuman. Pada 12 Oktober 2026, Presiden menerima Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Istana Merdeka, Jakarta, bertepatan dengan peringatan Hari Museum Nasional, di mana Presiden mendorong percepatan revitalisasi ratusan museum dan aset budaya di seluruh Indonesia. Selanjutnya, pada 13 Oktober 2026, Presiden didampingi Menteri Kebudayaan meninjau Museum Nasional bersama para pelajar.

Presiden Republik Indonesia Jenderal TNI (Purn.) (HOR) Prabowo Subianto sangat mengapresiasi pagelaran kesenian dan kebudayaan, serta memberikan perhatian khusus agar seni dan budaya dapat terus dikembangkan dan dijadikan daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Hal ini mendapat apresiasi luas dari berbagai kalangan melalui rangkaian acara seni dan budaya yang diselenggarakan di berbagai wilayah di Indonesia. Mari kita jaga dan pelihara seni, budaya, dan adat istiadat bersama-sama—mulai dari desa, kecamatan, kota, kabupaten, provinsi, nasional, hingga level internasional—sehingga ragam budaya tersebut menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Perlu kita ketahui pula, seorang seniman (musisi) legendaris di Indonesia yang dijuluki Si Raja Dangdut dan memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang musik dangdut pada tahun 2005 dari American University of Hawaii—H. Rhoma Irama, yang sampai sekarang bersama Soneta Group masih eksis dan membumi di seluruh penjuru Nusantara bahkan hingga mancanegara—pernah merilis lagu berjudul “135 Juta” pada tahun 1976 yang syairnya menceritakan tentang banyaknya suku dan budaya di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kembali pada sekelumit kisah singkat prajurit TNI-AD dari satuan Pembekalan dan Angkutan Kodam I/Bukit Barisan, Pratu Nanda Supriadi Hasibuan, serta beberapa ringkasan kisah lainnya, semoga hal ini dapat menjadi sarana dan wahana terbaik untuk selalu mengingat ragam budaya, suku bangsa, dan sejarah singkat yang pernah terjadi di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selanjutnya, marilah kita selalu berdoa semoga Allah Subhanahu Wata’ala senantiasa memberikan kesehatan, kekuatan, keberkahan, perlindungan, dan kelancaran kepada kita semua dalam melanjutkan pengabdian terbaik kepada keluarga, masyarakat, satuan, bangsa, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat kita cintai bersama.

Namun, hal utama yang harus kita ingat dan jadikan sebagai fondasi dalam kehidupan sehari-hari adalah bahwa siapa pun kita, apa pun pangkat dan jabatan yang disandang saat ini, berapa pun harta yang dimiliki, serta dari bangsa atau suku mana pun kita diciptakan—baik laki-laki maupun perempuan—semuanya merupakan ciptaan Allah Subhanahu Wata’ala agar kita saling mengenal satu sama lain.

Hal tersebut sangat relevan dan sesuai dengan firman Allah Subhanahu Wata’ala dalam Al-Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 13:

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.”

Semoga kita selalu istiqomah dalam beribadah dan bertawakal kepada Allah Subhanahu Wata’ala, Tuhan Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.

Sumber: Pendim 0210/TU

(Nur Kennan Tarigan)

Berita Terkait

Semangat Pak Suroto di Usia Senja, Ikut Berjuang Mewujudkan Rumah Impian 
**Penuh Syukur dan Mandiri, Pak Suroto Manfaatkan Sisa Bongkaran 0209/Labuhanbatu Hadir Membawa Harapan** 
**TMMD KE-130 KODIM 0209/LABUHANBATU MULAI PEMBONGKARAN RUMAH EDI HARAHAP, HADIRKAN HARAPAN BARU BAGI KELUARGA** 
Rumah Bambu Ludes & Tabungan Rp2,5 Juta Ikut Hangus, Kisah Pilu Kakek 78 Tahun di Sumberjaya Bikin Haru
Ganti Nomor Ponsel karena Takut Dilacak APH,Warga Ngaku Jual Emas ke WN China TZ Alias A Hingga Seret Nama Oknum Kades Inggis Sanggau
*Polisi Peduli Pendidikan, Polda Metro Jaya Edukasi Siswa Cegah Perundungan*
*Minggu Kasih, Kapolsek Koja di Gereja Pantekosta : Ajak Warga Cegah Tawuran dan Jaga Keamanan Lingkungan*
ANGGARAN PERJALANAN DINAS DPRD LEBAK DISOROT: TEMUAN BPK BONGKAR POTENSI CELAH REGULASI DAN ABU-ABU ANGGARAN MILYARAN RUPIAH

Berita Terkait

Senin, 26 Oktober 2026 - 15:02 WIB

Lampung Selatan Siapkan 9 Lokasi Perlombaan MTQ ke-53 Tingkat Provinsi Lampung

Senin, 26 Oktober 2026 - 12:53 WIB

Cegah Bullying di Sekolah, Polres Lamsel Edukasi 430 Siswa MAN 1 Lampung Selatan

Senin, 26 Oktober 2026 - 11:46 WIB

Perempuan Muda dalam Politik: Antara Kesempatan dan Tanggung Jawab

Senin, 26 Oktober 2026 - 09:34 WIB

Masyarakat Di gembar-gembor Patuh Pajak,Mobil Plat Merah Di Duga Mati Pajak 

Minggu, 25 Oktober 2026 - 21:00 WIB

Kominfo Tanggamus Bantah Dugaan Iuran OPD, DPD PWRI Lampung Tantang Pembuktian di Pengadilan: “Kita Buktikan!”

Minggu, 25 Oktober 2026 - 18:48 WIB

Dukung Kreativitas Anak Muda, Danramil 1701/Majalengka Hadiri Majalengka Creative Festival “Meet Up Collebs Together”

Minggu, 25 Oktober 2026 - 14:00 WIB

Jelang Libur Akhir Tahun, Jungle Sea Kalianda Tawarkan Tiket Masuk Mulai Rp25 Ribu

Minggu, 25 Oktober 2026 - 10:30 WIB

Warga Mersam Klaim Tanah Perkebunan PT IAA/ICA Masuk Ke Kelompok Tani Mersam Jaya

Berita Terbaru