SEJARAH HARI PERTANIAN NASIONAL: REFLEKSI DI TENGAH KEMARAU, SAAT HARAPAN HARUS TETAP TUMBUH

EDI SUPRIADI

- Redaksi

Jumat, 25 September 2026 - 07:59 WIB

5038 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Atas Nama Ir. Edi Supriadi Pimred dan Gilang Ferdian Redaksi Nasional Detik Com, mengucapkan Selamat Hari Pertanian Nasional 2026

Nasionaldetik.com,— Special Redaksi Setiap tanggal 24 September, bangsa Indonesia memperingati Hari Pertanian Nasional. Bukan sekadar perayaan atau seremonial belaka, hari ini lahir dari kesadaran mendalam bahwa pertanian adalah nadi kehidupan bangsa, tumpuan pangan, dan fondasi kemerdekaan yang sesungguhnya.

Sejarah yang Tak Boleh Dilupakan

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hari Pertanian Nasional ditetapkan berlandaskan peristiwa bersejarah pada 24 September 1945, ketika Pemerintah Republik Indonesia yang baru saja merdeka membentuk Kementerian Pertanian yang pertama. Di saat itu, di tengah situasi negara yang masih muda, belum memiliki alat canggih, dan ancaman penjajah masih membayangi, para pendiri bangsa memahami satu hal dengan tegas: tidak ada kemerdekaan yang kokoh tanpa kedaulatan pangan.

Di bawah kepemimpinan pejabat dan tokoh pertanian masa itu, diletakkan dasar-dasar pengelolaan sumber daya alam yang berpihak pada rakyat — agar tanah di bumi pertiwi ini dikelola oleh anak bangsa, untuk kesejahteraan rakyat sendiri. Sejak itulah, tanggal 24 September dijadikan pengingat: bahwa kekayaan terbesar negara bukanlah emas atau permata, melainkan tanah yang subur, air yang mengalir, dan petani yang setia merawatnya.

Kemarau yang Panjang, Harapan yang Tertunda

Namun, peringatan tahun ini datang dengan wajah yang pilu. Di sejumlah daerah, termasuk di tanah Jawa Barat yang kita cintai, musim kemarau berlangsung lebih panjang dan kering dari biasanya. Sumber air menyusut, sungai dangkal, dan lahan yang seharusnya hijau siap ditanam kini tampak retak dan kering.

Banyak petani sudah bersiap: benih telah dipilih, pupuk sudah disiapkan, tenaga sudah dikumpulkan. Tetapi hujan tak kunjung turun. Waktu tanam berlalu, dan benih yang seharusnya menyentuh tanah, masih tersimpan di karung — atau bahkan tak sempat ditabur sama sekali. Gagal tanam bukan sekadar kehilangan panen. Itu berarti hilangnya tenaga yang sudah dikuras, biaya yang sudah dikeluarkan, dan harapan yang perlahan mengering.

Ada kecemasan di wajah para petani:

– Bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga jika panen tak ada?
– Bagaimana menyediakan pangan untuk masyarakat jika lahan tak bisa ditanami?
– Bagaimana menjaga warisan bertani ini jika alam terus berubah dan tak lagi dapat diprediksi?

Refleksi: Keadilan, Kepedulian, dan Langkah Bersama

Kondisi ini mengajak kita semua merenung sungguh-sungguh. Hari Pertanian bukan hanya hari untuk memuji hasil panen yang melimpah, melainkan juga hari untuk menyadari ketimpangan dan memikul beban bersama.

Pertama, kita diingatkan bahwa petani adalah pilar terpenting bangsa, namun seringkali menjadi pihak yang paling rentan. Ketika cuaca tak bersahabat, merekalah yang paling dulu menanggung kerugian. Maka, perhatian, perlindungan, dan dukungan kepada mereka bukan belas kasihan — melainkan kewajiban bersama.

Kedua, kemarau yang berkepanjangan adalah teguran alam. Ia mengingatkan kita bahwa kerusakan lingkungan, penebangan hutan, pembakaran lahan, dan perubahan iklim yang terjadi selama ini kini berbalik menyusutkan sumber kehidupan. Keterlambatan hujan bukan sekadar soal cuaca — melainkan akibat dari kelalaian kita menjaga bumi.

Ketiga, gagal tanam bukan berarti menyerah. Justru di sinilah semangat petani yang sesungguhnya diuji:

– Mencari cara-cara baru yang lebih tahan kekeringan
– Mengelola air dengan lebih hemat dan terpadu
– Berbagi pengalaman antarwarga agar tidak berdiri sendiri dalam kesulitan
– Dan berharap, berdoa, serta berusaha terus — karena tanah tetap milik mereka yang tak pernah lelah berjuang.

Penutup: Saatnya Bersatu untuk Pertanian

Di Hari Pertanian Nasional ini, mari kita ucapkan terima kasih kepada setiap petani yang tetap berdiri meski tanah kering. Mari kita tekadkan:

– Agar kebijakan lebih memihak pada kesejahteraan petani
– Agar pengelolaan air dan lahan lebih terjaga dan berkelanjutan
– Agar kita semua — warga kota maupun desa — tidak melupakan asal-usul pangan di piring kita, dan ikut menjaga lingkungan agar tetap memberi kehidupan.

Seperti pepatah petani: “Tanah tak akan pernah mengkhianati mereka yang tulus merawatnya.” Meskipun musim ini belum membuahkan hasil, semangat bertani, kepedulian sesama, dan doa yang tulus akan menumbuhkan harapan baru. Saat hujan turun nanti, benih yang ditanam bukan hanya di tanah, melainkan juga di hati — bahwa kita mampu bangkit, bersama-sama.

Selamat Hari Pertanian Nasional 24 September. Semoga hujan turun membawa berkah, dan kesejahteraan petani menjadi kesejahteraan seluruh bangsa.

Penulis: Gilang Ferdian

Berita Terkait

NEGARA HADIR UNTUK RAKYAT, BUKAN PENGUASA: LBHAM TEGASKAN BUPATI JIKA LALAI URUS RAKYAT MISKIN BISA DIGUGAT HINGGA DIMAZULKAN
Mafia Tanah Berjubah Agama? Pemred Nasionaldetik.com Kecam Dugaan Penyerobotan Lahan Waris Rp 5 M di Jombang
MUSPIMNAS BEM PTNU 2026 : Mengawal Stabilitas Nasional, Meneguhkan Ekonomi Kerakyatan Menuju Bangsa yang Berdaulat
Pesan Menteri Nusron di Peringatan HANTARU 2026: Transformasi, Melayani Lebih Pasti Jadi Cara Kerja Sehari-hari
Paksakan Fungsi Terminal Jadi Pasar, Kebijakan Pemda Disebut Cacat Hukum
Dukung Ketahanan Pangan, Babinsa Koramil 07/Salak Dampingi Petani Panen Cabai Merah
Hadir di Reses DPRD Sumut, Babinsa Koramil 06/Kerajaan Dampingi Warga Sampaikan Aspirasi
Serka Sutarman Hadiri Musdes RKPDes 2027, Lima Program Pembangunan Desa Bertungen Julu Disepakati

Berita Terkait

Jumat, 25 September 2026 - 08:21 WIB

NEGARA HADIR UNTUK RAKYAT, BUKAN PENGUASA: LBHAM TEGASKAN BUPATI JIKA LALAI URUS RAKYAT MISKIN BISA DIGUGAT HINGGA DIMAZULKAN

Jumat, 25 September 2026 - 08:05 WIB

Mafia Tanah Berjubah Agama? Pemred Nasionaldetik.com Kecam Dugaan Penyerobotan Lahan Waris Rp 5 M di Jombang

Jumat, 25 September 2026 - 07:59 WIB

SEJARAH HARI PERTANIAN NASIONAL: REFLEKSI DI TENGAH KEMARAU, SAAT HARAPAN HARUS TETAP TUMBUH

Jumat, 25 September 2026 - 07:18 WIB

MUSPIMNAS BEM PTNU 2026 : Mengawal Stabilitas Nasional, Meneguhkan Ekonomi Kerakyatan Menuju Bangsa yang Berdaulat

Jumat, 25 September 2026 - 07:13 WIB

Pesan Menteri Nusron di Peringatan HANTARU 2026: Transformasi, Melayani Lebih Pasti Jadi Cara Kerja Sehari-hari

Kamis, 24 September 2026 - 23:36 WIB

Dukung Ketahanan Pangan, Babinsa Koramil 07/Salak Dampingi Petani Panen Cabai Merah

Kamis, 24 September 2026 - 23:31 WIB

Hadir di Reses DPRD Sumut, Babinsa Koramil 06/Kerajaan Dampingi Warga Sampaikan Aspirasi

Kamis, 24 September 2026 - 23:25 WIB

Serka Sutarman Hadiri Musdes RKPDes 2027, Lima Program Pembangunan Desa Bertungen Julu Disepakati

Berita Terbaru