Jakarta, – NasionalDetik.Com – Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) menggelar Kirab Merah Putih dan Parade Budaya Nusantara di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Minggu (25/10/2026), mulai pukul 07.00 WIB. Kegiatan ini menjadi momentum memperingati Hari Santri Nasional sekaligus menyambut Hari Sumpah Pemuda 2026 dengan mengusung semangat persatuan, kebinekaan, dan kecintaan terhadap Tanah Air serta spirit Bela Negara, Jaga Bangsa, Lestarikan Pancasila dan Merawat Tradisi Budaya Nusantara.Minggu,(25/10/2026)
Ketua Umum PNIB, Abdur Rozaq Waluyo Wasis Nugroho atau Gus Wal, menegaskan bahwa Merah Putih bukan sekadar simbol negara, melainkan lambang persatuan seluruh rakyat Indonesia yang harus dijaga dari berbagai ancaman perpecahan. Melalui kirab merah putih dan parade budaya Nusantara ini, PNIB mengajak masyarakat memperkuat komitmen kebangsaan serta menolak intoleransi, ideologi khilafah yang bertentangan dengan komitmen kebangsaan, terorisme, radikalisme, dan korupsi yang merusak kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Dalam kegiatan tersebut, kader muda PNIB, Algaza Albi Anggara dan Oscar Pendong membacakan ikrar kebangsaan sebagai penegasan sikap PNIB dalam menjaga keutuhan NKRI, merawat toleransi, serta melawan segala bentuk tindakan dan paham yang mengancam persatuan bangsa. Ikrar tersebut menjadi pengingat bahwa semangat Hari Santri dan Sumpah Pemuda harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan berhenti pada seremoni dan slogan.
Ikrar Pemuda 2026
1 Menjunjung Tinggi Persatuan Kesatuan Bangsa, Mengutamakan Keutuhan dan Keselamatan Rakyat dan Bangsa Indonesia.
2 Setia Kepada Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan Merah Putih
3 Menolak dan Melawan Intoleransi, Korupsi, Narkoba, Judol, Khilafah Terorisme Radikalisme Anarkisme Premanisme.
Selain Kirab Merah Putih, PNIB juga menghadirkan Parade Budaya Nusantara dengan menampilkan ondel-ondel dan seni bela diri pencak silat khas Betawi. Penampilan ini merupakan upaya mengangkat tradisi, budaya, serta kearifan lokal Betawi yang luhur sebagai bagian dari kekayaan kebudayaan nasional. PNIB menilai bahwa merawat kebudayaan daerah merupakan salah satu cara menjaga identitas bangsa sekaligus memperkuat persaudaraan, toleransi dan persatuan ditengah keberagaman Indonesia, terang Gus Wal.
Gus Wal juga menyoroti persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menjadi keprihatinan bersama. Menurutnya, persoalan karhutla tidak boleh dipandang sebagai masalah lingkungan semata, melainkan menyangkut keselamatan masyarakat, kesehatan publik, kelestarian ekosistem, dan tanggung jawab negara dalam melindungi rakyat. PNIB mendesak pemerintah memperkuat pencegahan, penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran, serta penanganan dan pemulihan wilayah terdampak secara serius dan berkelanjutan, serta mendesak pemerintah agar Karhutla ditetapkan sebagai Bencana Nasional, terang Gus Wal.
Di tengah berbagai persoalan bangsa, PNIB juga mendesak pemerintah menetapkan 16 November sebagai Hari Toleransi Nasional. Usulan ini diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat pendidikan toleransi, menghormati perbedaan keyakinan dan latar belakang, serta mencegah diskriminasi dan kekerasan atas nama identitas. Penetapan tersebut, menurut PNIB, perlu diikuti langkah konkret agar toleransi tidak berhenti sebagai slogan, tetapi hadir dalam kebijakan publik dan kehidupan sehari-hari.
“Semangat Hari Santri dan Sumpah Pemuda harus menjadi energi untuk menjaga Indonesia tetap bersatu. Kita boleh berbeda suku, agama, budaya, dan pandangan, tetapi kita tetap satu bangsa. Merah Putih harus menjadi rumah bersama yang melindungi seluruh rakyat, bukan alat untuk memecah belah,” demikian pesan kebangsaan yang disuarakan melalui kegiatan tersebut.
Melalui Kirab Merah Putih dan Parade Budaya Nusantara yang digelar oleh PNIB Kelima kalinya di Jakarta ini, juga merupakan bentuk dukungan PNIB kepada TNI agar selalu manunggal bersama rakyat dan mendukung penuh Polri Bersama Masyarakat, Totalitas Melayani, Mengayomi dan Melindungi Rakyat Indonesia tanpa pandang bulu, PNIB berharap masyarakat semakin menyadari bahwa menjaga Indonesia merupakan tanggung jawab bersama. Perlawanan terhadap intoleransi, terorisme, korupsi, dan tindakan yang mengancam persatuan harus berjalan beriringan dengan pelestarian budaya, perlindungan lingkungan, serta penguatan solidaritas sosial, Pungkas Gus Wal.
(Red)





























