Oleh: Dr. H Ahmad Fahrur Rozi
Nasionaldetik.com,— 20 Juni 2026
Saya lahir dan dibesarkan di pesantren. Sejak kecil saya menyaksikan bagaimana para kiai generasi terdahulu mendidik anak-anaknya dengan disiplin, kesederhanaan, dan kerja keras. Karena itu, saya merasa prihatin ketika melihat sebagian anak kiai tumbuh dengan mental feodal, merasa selalu benar, wajib dihormati, dan tidak boleh dikritik hanya karena status nasabnya.
Menurut saya, salah satu pendidikan terbaik bagi anak kiai adalah mondok di pesantren lain. Ketika berada di rumah sendiri, sering kali seorang anak kiai diperlakukan istimewa. Semua orang sungkan menegur. Kesalahan ditoleransi. Pendapatnya dianggap benar. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, yang tumbuh bukanlah karakter kepemimpinan, melainkan kesombongan.
Ayah saya dahulu sangat tegas dalam hal ini. Beliau bahkan melarang anak-anaknya dipanggil “Gus”. Beliau mewajibkan saya memanggil”Cak” atau “Mas” kepada para santri . Tujuannya sederhana: agar kami tidak tumbuh dengan perasaan lebih tinggi daripada orang lain.
Beliau juga sangat egaliter. Bahkan dalam banyak hal, anak-anaknya diperlakukan lebih keras daripada santri biasa. Saya pernah setor kitab Fathul Qarib dan hafalan Jurumiyah secara langsung kepada beliau. Jika tidak hafal, saya harus berdiri. Pernah suatu ketika saya bolos mengaji, dan beliau sendiri yang menggunduli kepala saya sebagai bentuk pendidikan disiplin santri.
Pelajaran yang lebih berkesan saya alami ketika awal mondok di Lirboyo. Baru dua hari setelah diantar ayah saya mondok, tiba-tiba saya dipanggil almarhum Gus Maksum . Beliau menyuruh saya mencangkul dan membersihkan seluruh kotoran kandang sapi di belakang workshop, sebelah rumah Pak Sya’roni yang sekarang menjadi asrama putri Mubtadiat.
Sambil tertawa beliau dawuh, “Anak kiai harus dilatih bekerja supaya tidak sombong.”
Kalimat itu sangat membekas dalam hidup saya.
Beliau sering mengingatkan, “Anak kiai tinggalkan dulu gelar gus-nya di pagar sebelum masuk pondok.”
Pesan sederhana itu sesungguhnya mengandung filosofi pendidikan yang sangat dalam. Pondok pesantren bukan tempat melestarikan feodalisme, melainkan tempat menempa akhlak, ilmu, kemandirian, dan kerendahan hati.
Saya bersama beberapa anak kiai lainnya sering diajak bekerja di kebun, merawat pohon jeruk dan belimbing, mengurus peternakan lele dan sapi. Kami diajari bahwa kemuliaan tidak lahir dari nasab semata, melainkan dari ilmu, adab, dan kerja keras.
Hari ini saya melihat gejala yang mengkhawatirkan. Ada sebagian anak kiai yang tidak pernah merasakan hidup sebagai santri biasa di pesantren lain. Akibatnya muncul mental “jago kandang”. Merasa lebih baik dari yang lain. Menuntut perlakuan istimewa. Menganggap kritik sebagai penghinaan. Bahkan ada yang merasa wajib dihormati meskipun belum memiliki ilmu, pengabdian, atau prestasi yang memadai.
Padahal masyarakat saat ini sudah sangat maju dan rasional. Penghormatan tidak lagi diberikan hanya karena garis keturunan, melainkan karena kapasitas, integritas, dan keteladanan.
Islam sendiri tidak pernah mengajarkan kesombongan nasab. Anak Nabi Nuh tidak selamat hanya karena ayahnya seorang nabi. Putra Nabi Adam juga ada yang durhaka. Rasulullah SAW bahkan bersabda kepada Sayyidah Fatimah:
“Wahai Fatimah binti Muhammad, mintalah kepadaku apa yang engkau kehendaki dari hartaku, tetapi aku tidak dapat menyelamatkanmu dari azab Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa nasab adalah kehormatan, tetapi bukan jaminan kemuliaan di sisi Allah.
Karena itu, mental feodal harus dikikis. Anak kiai harus dibiasakan hidup sederhana, bekerja keras, bergaul dengan berbagai kalangan, menerima kritik, dan belajar di tempat lain agar memahami kehidupan secara lebih luas.
Kita membutuhkan generasi penerus pesantren yang egaliter, profesional, rasional, dan rendah hati. Bukan generasi yang hanya besar karena nama ayahnya, tetapi kecil dalam kapasitas dan pengabdiannya.
Sebab masa depan pesantren tidak akan ditentukan oleh siapa orang tuanya, melainkan oleh siapa yang paling mampu menjaga amanah, memberi teladan, dan mengabdi kepada umat dengan penuh kerendahan hati.
Redaksi
























