Tanah Karo, Nasionaldetik.com
Jika hanya melihat dari jabatan dan tugasnya, orang akan langsung mengira dia adalah sosok yang garang, tegas, bahkan sedikit kejam. Maklum, jabatan yang diembannya tidak main-main.
Dia adalah “Letkol Arm Eddy Saputra Ginting, S.E., M.S.M., M.Tr.Mil.”, Dandenintel Kodam I/Bukit Barisan. Jabatan strategis yang memikul tanggung jawab besar menjaga keamanan Panglima dan nama baik Kodam I/BB. Seorang perwira intelijen memang dituntut harus tajam, jeli, waspada 24 jam, dan tidak boleh lengah sedikit pun.
Tak heran jika salah seorang putra terbaik Tanah Karo ini jarang terlihat di keramaian, jarang nongkrong, jarang berkumpul dengan keluarga dan sahabat. Banyak yang kemudian salah menilai, menganggapnya sombong, menjauh, dan melupakan kampung halaman.
Padahal, anggapan itu salah besar,..!!!
Dibalik seragam loreng dan tatapan tajamnya sebagai Komandan Intelijen, tersimpan hati yang sangat lembut, ramah, dan rendah hati. Letkol Arm Eddy Saputra Ginting adalah sosok yang tidak pernah melupakan akar budaya Karo-nya.
Sifat aslinya itu terkuak jelas pada hari Sabtu, 19 September 2026 lalu. Saat keluarga besar menggelar acara mengenang satu tahun berpulangnya ayahanda tercinta, Almarhum Bapak Usaha Ginting Suka.
Di rumah duka itu, tidak terlihat jarak antara seorang Letkol dengan rakyat biasa. Semua diperlakukan sama.
Pejabat yang datang disapa dengan hormat. Keluarga, famili, kerabat dekat, hingga sahabat lama, semua dirangkul dengan senyum ramah yang tulus dari hati. Tidak ada sekat, tidak ada protokol berlebihan. Dia adalah Eddy yang dulu, anak Karo yang santun.
Puncaknya adalah momen yang membuat siapa pun yang hadir menitikkan air mata haru.
Para orang tua, terutama para nenek-nenek lansia, datang memeluknya erat. Dengan kasih sayang seorang nenek kepada cucunya, mereka menciumi pipi sang Komandan sambil berlinang air mata, mendoakan agar sang putra Karo ini sukses dan sehat selalu.
Bekas air sirih merah dari mulut para nenek itu pun menempel di kemeja putih bersih yang dikenakan Letkol Eddy. Di pipi, di bahu, di dada. Noda merah itu terlihat jelas.
Namun apa yang dilakukan sang Dandenintel,..???
Sedikit pun tidak ada rasa risih, jijik, atau berusaha mengelapnya. Justru beliau membiarkan, memeluk balik dengan lebih erat, menundukkan kepala sebagai tanda hormat kepada orang tua.
Pemandangan itu sungguh menggetarkan hati penulis.
Seorang perwira menengah dengan jabatan bergengsi, yang sehari-hari memimpin pasukan intelijen, rela kemeja putih kebanggaannya ternoda air sirih demi menghormati orang tua. Di situlah terlihat kelas sejati seorang pemimpin. Pangkat di pundak tidak membuatnya lupa siapa dirinya.
Saat itu juga, semua stigma miring yang menyebut beliau sombong, langsung sirna. Yang tersisa hanyalah rasa bangga yang mendalam. Bangga Tanah Karo masih memiliki putra seperti dirinya.
Letkol Arm Eddy memang jarang terlihat, karena hasil kerjanya tidak perlu terlihat, tapi dirasakan. Dia bekerja dalam senyap untuk keberhasilan tugas di lapangan. Tanggung jawabnya tak mengenal waktu, tak mengenal hari libur.
Jika hari ini beliau jarang berkumpul, percayalah itu bukan karena sombong. Tapi karena negara dan Kodam I/BB ada di pundaknya.
Di akhir tulisan ini, izinkan penulis memanjatkan doa tulus dari Tanah Karo :
Semoga Letkol Arm Eddy Saputra Ginting, S.E., M.S.M., M.Tr.Mil senantiasa diberikan kesehatan, kesuksesan dalam karier dan keharmonisan dalam keluarga. Tetaplah rendah hati seperti noda sirih di kemeja putihmu itu, dan kelak semoga engkau menjadi pemimpin besar yang membawa harum nama Tanah Karo di masa mendatang.
Mejuah-juah, Aamiin Ya Rabbal Alamin… 🤲🤲🤲
(Nur Kennan Tarigan)

























