Jambi- nasional detikcom,.Annisa Maharani, mahasiswa Program Studi Ilmu Politik Universitas Jambi sekaligus Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Jambi, ingin menyampaikan pendapat mengenai keterlibatan perempuan muda dalam politik dan kepemimpinan di Indonesia.
Politik sering kali dipahami sebatas persoalan kekuasaan, jabatan, dan persaingan untuk mendapatkan posisi tertentu. Padahal, politik juga berkaitan dengan bagaimana keputusan dibuat, kepentingan masyarakat diperjuangkan, dan tanggung jawab dijalankan. Oleh karena itu, keterlibatan generasi muda dalam politik perlu dilihat sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk memahami persoalan masyarakat dan ikut berkontribusi dalam penyelesaiannya.
Sebagai mahasiswa Ilmu Politik, saya melihat bahwa keterlibatan perempuan muda dalam ruang kepemimpinan merupakan hal yang penting, tetapi perlu disertai pemahaman yang baik mengenai politik itu sendiri. Keberanian untuk tampil dan menduduki jabatan merupakan langkah awal, sedangkan kemampuan membaca persoalan, menyampaikan gagasan, mengambil keputusan, serta mempertanggungjawabkan pilihan menjadi bagian yang tidak kalah penting.
Pengalaman saya sebagai Ketua PW IPPNU Jambi juga memberikan pandangan bahwa kepemimpinan bukan hanya tentang mengoordinasikan anggota atau menjalankan program kerja. Ada tanggung jawab untuk menjaga kepercayaan, membangun komunikasi, menyatukan perbedaan pendapat, dan memastikan organisasi berjalan sesuai dengan tujuan. Pengalaman tersebut menjadi salah satu ruang belajar bagi saya untuk memahami bahwa memimpin membutuhkan proses, bukan hanya keberanian untuk mengambil posisi.
Dalam konteks politik Indonesia, keterwakilan perempuan juga telah mendapat perhatian melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, yang mengatur keterwakilan perempuan paling sedikit 30 persen dalam daftar bakal calon anggota DPR dan DPRD. Ketentuan ini membuka ruang partisipasi perempuan dalam proses politik. Namun, menurut saya, keterwakilan tersebut perlu diikuti dengan kesiapan dan kapasitas agar keterlibatan yang ada dapat memberikan kontribusi nyata dalam pengambilan keputusan.
Di sisi lain, perempuan muda juga tidak seharusnya hanya dinilai berdasarkan identitasnya sebagai perempuan. Kemampuan, integritas, pengalaman, dan tanggung jawab tetap menjadi hal penting dalam menilai seseorang yang dipercaya memimpin. Prinsip yang sama berlaku bagi laki-laki maupun perempuan. Kesempatan yang setara perlu diberikan, tetapi tanggung jawab atas peran yang dijalankan juga harus menjadi perhatian bersama.
Organisasi kepemudaan, termasuk IPPNU, memiliki ruang untuk mempersiapkan generasi muda agar lebih memahami kepemimpinan dan kehidupan bermasyarakat. Melalui organisasi, kader dapat belajar menyampaikan pendapat, mengelola perbedaan, menyusun program, serta memahami kebutuhan masyarakat. Pengalaman tersebut dapat menjadi bekal untuk berpartisipasi dalam berbagai ruang publik, termasuk politik, tanpa harus menganggap bahwa setiap kader nantinya wajib terjun ke politik praktis.
Pada akhirnya, menurut saya, keterlibatan perempuan muda dalam politik bukan hanya tentang seberapa banyak mereka memperoleh jabatan, melainkan juga tentang bagaimana kesempatan tersebut digunakan secara bertanggung jawab. Menjadi bagian dari kepemimpinan berarti bersedia terus belajar, menerima kritik, dan mempertanggungjawabkan setiap keputusan yang diambil.
Sebagai mahasiswa Ilmu Politik dan Ketua PW IPPNU Jambi, saya memandang bahwa generasi muda perlu mempersiapkan diri bukan hanya untuk mendapatkan tempat dalam ruang kepemimpinan, tetapi juga untuk memahami amanah yang menyertainya. Sebab, politik yang bermakna bukan sekadar tentang siapa yang berkuasa, melainkan tentang bagaimana kekuasaan dan tanggung jawab digunakan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Penulis: Annisa Maharani, Mahasiswa Program Studi Ilmu Politik Universitas Jambi dan Ketua PW IPPNU Jambi.






























