Nasionaldetik.com,— 01 Oktober 2026 Pasca muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama, yang dibutuhkan bukan sekadar mengakhiri ketegangan, melainkan merawat kembali ukhuwah. Di tengah riuhnya percakapan publik, tabayun menjadi penting agar perbedaan pandangan tidak berubah menjadi prasangka dan fitnah.
Sebagai jam’iyyah sosial keagamaan terbesar, maka langkah nyata untuk merealisasikan amanat Muktamar harus menjadi prioritas utama. Kebangkitan ulama harus seiring dengan kebangkitan umat.
Pesan itu mengemuka dalam Gala Dinner Pekan Rekonsiliasi & Ukhuwah Nahdliyyin Pasca-Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Cirebon, Minggu (27/9/2026). Sekitar 300 ulama serta aktivis NU, baik struktural maupun kultural, hadir dalam forum yang diinisiasi Imam Jazuli Foundation (IJF), sebagai ikhtiar menyatukan misi dan menyegarkan kembali gerakan warga NU setelah dinamika Muktamar.
Salah satu topik pembicaraan yang mencuri perhatian adalah kesaksian KH Imam Jazuli mengenai KH Miftachul Akhyar, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Kiai Imjaz, sapaan akrab KH Imam Jazuli, mengatakan kesaksiannya disampaikan bukan untuk memperuncing perbedaan, melainkan sebagai bentuk tabayun terhadap berbagai informasi dan tudingan yang berkembang di ruang publik.
“Saya ini orang yang objektif. Saya ingin klarifikasi sedikit saja berbagai bully, ujaran kebencian dan fitnah yang berkembang di ruang publik terkait KH Miftachul Akhyar, yang intinya ingin menjatuhkan marwah, wibawa, dan kehormatan beliau sebagai Rais Aam PBNU,” ungkap pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia ini.
Teladan Kesederhanaan dan Keteguhan Sikap Kiai Imjaz menuturkan, setelah Muktamar ke-35 NU, ia bersama keluarga bersilaturahmi dan sowan langsung ke kediaman KH Miftachul Akhyar di Surabaya.
Pertemuan tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk melakukan tabayun terhadap sejumlah informasi yang beredar mengenai kehidupan Rais Aam PBNU.
Salah satunya rumor mengenai rumah yang disebut memiliki fasilitas lift. Dalam kesaksian Kiai Imjaz, fakta yang ia temui justru memperlihatkan kehidupan yang jauh dari kesan mewah.
“Saya ini orang yang tidak mudah percaya dengan omongan orang. Saat bertemu Kiai Miftah, saya ngobrol sekaligus tabayun beberapa hal, termasuk kaitan rumah beliau yang memiliki lift, yang ternyata itu adalah pesantren. Rumah Kiai Miftah di belakang pesantren. Masuk gang. Itu pun lantai dua buat tempat santri. Atapnya sudah banyak yang rusak. Sederhana untuk sosok sekaliber pemimpin tertinggi organisasi terbesar di dunia,” ujar Kiai yang juga pengusaha ini.
Bagi Kiai Imjaz, kesederhanaan tersebut bukan sekadar perkara tempat tinggal atau fasilitas. Ia melihatnya sebagai bagian dari cara seorang ulama menempatkan jabatan dan kehidupan pribadi.
Hal lain yang menurutnya menarik adalah sikap mulia KH Miftachul Akhyar ketika menghadapi berbagai kritik, fitnah, dan ujaran kebencian. Alih-alih membalas, Rais Aam memilih diam dan bersabar.
“Saya menanyakan langsung ke Kiai Miftah, kenapa memilih diam dan sabar menghadapi fitnah dan pembullyan. Beliau hanya tersenyum dan mengatakan, biar waktu yang mengungkap semua kebenaran. Ini sungguh luar biasa, akhlak pemimpin NU yang harus kita teladani,” tutur Kiai Imjaz.
Bagi Kiai Imjaz, jawaban tersebut mencerminkan karakter kepemimpinan yang berkeadaban yang tidak reaktif. Dalam organisasi sebesar NU, kata dia, kemampuan menahan diri, seorang pemimpin sungguh sangat diperlukan.
Pertemuan yang berlangsung hingga larut malam itu juga memberi kesan kekeluargaan. Kiai Imjaz menuturkan, KH Miftachul Akhyar dan keluarga melayani serta menjamu ia dan istrinya secara langsung.
Keteladanan dalam Keluarga
Kiai Imjaz juga menyoroti cara KH Miftachul Akhyar mendidik anak-anaknya untuk tetap hidup sederhana di tengah budaya yang kerap mengukur keberhasilan dari jabatan dan kemewahan.
Ia menyebut salah seorang putra Rais Aam PBNU sebagai sahabatnya ketika sama-sama berada di Mesir.
“Salah satu putranya itu adalah sahabat saya. Mobil yang dia gunakan Carnival lama. Masyaallah. Ada anaknya lagi, alumni Lirboyo yang menjadi Wakil Katib PWNU Jatim, ke mana-mana naik sepeda motor. Hidup sangat sederhana keluarganya, rumahnya pun masih mengontrak,” ungkapnya.
Menurut Kiai Imjaz, kesederhanaan tersebut juga berkaitan dengan prinsip KH Miftachul Akhyar agar anak-anaknya tidak menggunakan posisi sang ayah untuk memperoleh kemudahan, kemewahan, atau jabatan.
“Saya sendiri kaget saat putra beliau menolak pemberian dari saya yang disaksikan langsung oleh Rais Aam,” tutur Kiai Imjaz.
Fakta tersebut, bagi Kiai Imjaz, menunjukkan bahwa keteladanan kepemimpinan tidak berhenti pada mimbar organisasi. Ia justru diuji dalam ruang yang paling dekat: keluarga.
Sanad Keilmuan dan Khidmah di NU
Kiai Imjaz juga menguraikan perjalanan keilmuan KH Miftachul Akhyar yang ditempa melalui sejumlah pesantren. Di antaranya Pondok Pesantren Tambakberas, Pondok Pesantren Sidogiri, dan pesantren di Lasem, Jawa Tengah. Ia juga mengikuti Majelis Ta’lim Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki ketika ulama tersebut masih mengajar di Indonesia.
Salah satu sosok penting dalam perjalanan keilmuan KH Miftachul Akhyar adalah KH Mashduqi Lasem.
Kiai Imjaz menyebut hubungan tersebut bukan sekadar hubungan guru dan murid. KH Miftachul Akhyar kemudian menjadi menantu KH Mashduqi Lasem.
“Kiai Miftah itu santri sekaligus menantu gurunya di Lasem. Pesantren tempat ayah saya juga pernah mondok. Ini menjadi penegasan bagaimana kedalaman ilmu agama beliau, karena tidak mungkin Kiai Mashduqi menjadikan santrinya sebagai mantu bila tidak alim,” ungkap Kiai Imjaz.
Bekal keilmuan dari pesantren tersebut kemudian berpadu dengan pengamatan KH Miftachul Akhyar terhadap lingkungan sosial di sekitarnya. Dari sana tumbuh ikhtiar untuk mengembangkan pengajian hingga mendirikan Pondok Pesantren Miftachus Sunnah di Kedung Tarukan, Surabaya.
Kiai Imjaz juga menyebut KH Miftachul Akhyar masih istiqomah menjalankan rutinitas pengajian kitab. Salah satunya pengajian Al-Hikam karya Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari yang digelar setiap Jumat setelah salat Jumat.
Di bidang organisasi, perjalanan KH Miftachul Akhyar di NU juga berlangsung panjang. Ia tercatat aktif dalam struktur Syuriyah NU Surabaya sejak akhir 1970-an. Ia kemudian dipercaya sebagai Rais Syuriyah PCNU Surabaya pada 2000, Rais PWNU Jawa Timur pada 2007–2015, Wakil Rais Aam PBNU sejak 2015, dan Rais Aam PBNU sejak 2018 hingga kini.
Menurut Kiai Imjaz, perjalanan panjang tersebut membentuk kombinasi antara kedalaman ilmu, pengalaman organisasi, dan keteguhan prinsip.
“Kombinasi antara kealiman Kiai Miftah yang ditempa dari pesantren-pesantren besar seperti Tambakberas, Sidogiri, hingga Lasem, dengan ketegasan prinsipnya yang kokoh hasil proses panjang dari perjalanan aktivisme berorganisasi di NU, adalah berkah terbesar bagi PBNU saat ini,” papar Kiai Imam Jazuli.
Ajakan Bersatu dan Jangan Mudah Terprovokasi Pesan Kiai Imjaz kemudian mengarah pada persoalan yang lebih luas: bagaimana warga NU menyikapi perbedaan setelah Muktamar.
Menurut dia, perbedaan pandangan merupakan keniscayaan dalam organisasi sebesar NU. Yang perlu dijaga adalah agar perbedaan tersebut tidak berubah menjadi permusuhan, saling mencaci, atau tindakan yang merendahkan martabat sesama warga Nahdliyin.
Ia mengingatkan agar warga NU tidak mudah menerima dan menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.
“Saya telah mendengar, membaca, dan mengikuti secara langsung dengan saksama. Oleh karenanya, jangan karena Muktamar kemudian saling mencaci, memfitnah, dan menjatuhkan kehormatan ulama satu sama lain, apalagi kepada sosok Rais Aam PBNU,” harap Kiai Imjaz.
Kiai Imjaz menekankan pentingnya tabayun sebelum mengambil sikap. Sebarkan yang haq dan jauhi yang hoaks.
“Kadang-kadang kita ini menjelekkan orang, enggak tahu faktanya. Jadi, seandainya saya tidak paham, saya memilih diam. Saya ngomong apa adanya tentang Rais Aam,” jelas Kiai Imjaz.
Ia juga mengingatkan bahwa narasi yang berkembang di ruang publik dapat dengan mudah membentuk persepsi, terutama ketika informasi beredar tanpa verifikasi.
“Faktanya banyak framing yang dilakukan pihak tertentu. Jika kita malah terjebak dan menjadi penyebar framing tersebut, itu ibarat menepuk air di dulang, terpercik kita sendiri. Kita justru menjadi pihak yang mendegradasi NU itu sendiri,” ujarnya.
Bagi Kiai Imjaz, persoalan pasca-Muktamar bukan lagi semata-mata soal siapa yang berbeda pandangan. Tantangannya adalah bagaimana NU mengubah energi kontestasi menjadi energi kolaborasi.
Dalam pandangannya, kepemimpinan KH Miftachul Akhyar memperlihatkan pentingnya dialog, kesabaran, dan ketenangan dalam menghadapi dinamika organisasi. Perbedaan tidak harus dibalas dengan kemarahan; kritik tidak harus berujung pada penghinaan.
“KH Miftachul Akhyar menunjukkan teladan kesabaran dan kepemimpinan yang tenang dan tegas dalam menyampaikan setiap aspirasi dan sikap organisasi serta menghadapi berbagai persoalan organisasi dengan kepala dingin tanpa emosi,” ungkap Kiai Imjaz.
Pada akhirnya, rekonsiliasi pasca-Muktamar bukan sekadar agenda seremonial. Ia merupakan pekerjaan besar organisasi. Kiai Imjaz mengajak warga NU memasuki abad kedua dengan menjaga persatuan dan menghormati otoritas keulamaan tanpa kehilangan tradisi dialog dan tabayun.
“Kepemimpinan Kiai Miftah dengan kekuatan moral dan ideologis NU harus dijaga agar memberikan rasa aman bagi warga Nahdliyin di akar rumput. Sudah tiba saatnya para ulama bangkit dan bersatu kembali. Mengisi khidmah utama jam’iyyah untuk umat.
Mengarungi abad kedua dengan akar perjuangan pendahulu, penuh keikhlasan, memperkuat profesionalisme organisasi dalam bingkai kepemimpinan kolaboratif, di bawah komando Rais Aam PBNU,” pungkasnya.
Tim Redaksi




























