Dandim 0210/TU Letkol Arm Kiky Hardian, S.Sos.: “Kami tidak ingin terjadi lagi peristiwa G30S/PKI terulang kembali di Negara Kesatuan Republik Indonesia.”
Toba, Nasionaldetik.com
— Upacara Hari Kesaktian Pancasila diperingati oleh segenap komponen bangsa mulai dari Pemerintah Pusat, Institusi TNI/Polri, BUMN/BUMD, Lembaga Tinggi Negara, Kementerian, Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten/Kota, Kecamatan, dan Pemerintah Desa, serta segenap lapisan masyarakat di seluruh penjuru tanah air, termasuk di wilayah Kodim 0210/TU yang meliputi Kabupaten Toba, Humbahas, Samosir, dan Tapanuli Utara. Semuanya melaksanakan kegiatan tersebut dengan antusias dan penuh khidmat untuk mengikuti jalannya Upacara Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2026.
Danramil 16/Laguboti Kodim 0210/TU bertindak sebagai Inspektur Upacara dan diikuti oleh aparatur pemerintahan kecamatan, desa, serta elemen masyarakat lainnya dengan penuh keikhlasan dan ketulusan mengikuti jalannya upacara yang sangat sakral bagi bangsa Indonesia.
Di sela-sela kegiatan upacara, Danramil 16/Laguboti Kodim 0210/TU Kapten Inf Hadi S mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta upacara yang hadir. Selanjutnya, Kapten Inf Hadi S mengatakan sekaligus mengingatkan pentingnya bagi kita semua untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, khususnya di Kecamatan Laguboti, ujar Danramil singkat.
Sementara itu, pelaksanaan Upacara Peringatan Hari Kesakitan Pancasila yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Toba bertempat di Monumen Pahlawan Revolusi D.I. Panjaitan, Kelurahan Napitupulu Bagasan, Kecamatan Balige, Kabupaten Toba, Provinsi Sumatera Utara. Bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Kapolres Toba AKBP Vinsensius Jimmy Parapaga, S.I.K.
Sehari sebelumnya, dilaksanakan Upacara Ziarah Nasional dalam rangka penghormatan atas pengorbanan Pahlawan Revolusi Mayor Jenderal TNI Anumerta D.I. Panjaitan sekaligus promosi destinasi wisata Kompleks D.I. Panjaitan oleh Perkumpulan Masipature Hutana Be Sitorang Hutagurgur atau Forum Martabe Sigurs (FORMASI) untuk memperingati wafatnya Pahlawan Revolusi Mayor Jenderal TNI Anumerta D.I. Panjaitan dengan tema: “Pahlawanku Teladanku”.
Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Rabu, 30 September 2026, di Kompleks Monumen D.I. Panjaitan, Lumban Tor, Desa Natolutali, Kecamatan Silaen, Kabupaten Toba, dengan bertindak sebagai Inspektur Upacara Bupati Toba Efendy S.P. Napitupulu, S.E. Sementara undangan yang hadir pada acara tersebut yakni Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Toba, sedangkan yang mewakili Dandim 0210/TU Letkol Arm Kiky Hardian, S.Sos. adalah Pabung Kodim 0210/TU Wilayah Toba Mayor Arm Guntur Sebayang.
Selanjutnya di Kabupaten Humbahas, Peringatan Hari Kesaktian Pancasila juga dilakukan dengan penuh semangat dan khidmat, bertindak sebagai Inspektur Upacara Bupati Humbahas Dr. Oloan Paniaran Nababan, S.H., M.H. Selesai pelaksanaan upacara, Bupati Humbahas menyampaikan apresiasi dan ungkapan terima kasih yang tiada terhingga atas pelaksanaan upacara memperingati Hari Kesaktian Pancasila. “Saya ucapkan terima kasih yang tiada terhingga atas kehadiran para pejabat Forkopimda Kabupaten Humbahas, TNI/Polri, mahasiswa, pelajar, dan undangan lainnya. Mari kita jadikan momentum Peringatan Hari Kesaktian Pancasila untuk mempererat persatuan dan kesatuan bangsa serta kita jadikan kegiatan ini sebagai wujud penghormatan tertinggi pada Pancasila dan rasa cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.”
Selain itu, Bupati Humbahas Dr. Oloan Paniaran Nababan, S.H., M.H., mengingatkan pentingnya sinergi dan selalu berkomunikasi di dalam melakukan kegiatan dan program di wilayah Kabupaten Humbahas. “Mari kita selalu bekerja sama dan bahu-membahu dalam mendukung serta menyukseskan berbagai program dan kegiatan, termasuk rencana Kunjungan Kerja Presiden Republik Indonesia Jenderal TNI (Purn.) (HOR) Prabowo Subianto dalam waktu beberapa bulan ke depan di wilayah Kabupaten Humbahas.”
Hadir pada peringatan Hari Kesaktian Pancasila tersebut Bupati Humbahas Dr. Oloan Paniaran Nababan, S.H., M.H., Wakil Bupati Rebecca Marbun, Wakil Ketua I DPRD Humbahas Jesika Simamora, Kapolres Humbahas AKBP Adi Nugroho, S.H., S.I.K., mewakili Dandim 0210/TU Danramil 10/Pakat Lettu Inf Win Situmorang, Wadan Yon TP 955/HS Mayor Inf Syukri, Sekda Humbahas Christison Marbun, para anggota DPRD Humbahas, para pimpinan OPD Kabupaten Humbahas, para ketua OKP Kabupaten Humbahas, dan tamu undangan lainnya.
Sedangkan di Kabupaten Samosir, pelaksanaan upacara memperingati Hari Kesaktian Pancasila dilaksanakan di Tanah Lapang Pangururan, Kecamatan Pangururan, Kabupaten Samosir, serta seluruh kegiatan berjalan dengan aman, tertib, dan lancar. Bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Bupati Samosir Vandiko Timotius Gultom, S.T. Hadir pada upacara tersebut antara lain Dandim 0210/TU Letkol Arm Kiky Hardian, S.Sos., Ketua DPRD Kabupaten Samosir Nasip Simbolon, Wakil Bupati Samosir Ariston Tua Sidauruk, S.E., M.M., Wakapolres Samosir Kompol Manuppak Sitorus, S.H., Pabung Samosir Mayor Inf T. Siringoringo, Kajari Samosir Akwan Annas, S.H., M.H. (Kasi Pemulihan Aset dan Pengelolaan Barang Bukti), Kajari Samosir Rifqiy El Farabiy, S.H., para asisten bupati Samosir, para staf ahli bupati Samosir, para pimpinan OPD Samosir, para PJU Polres Samosir dan instansi vertikal, BUMN, BUMD, ormas, serta OKP Kabupaten Samosir.
Untuk upacara memperingati Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara melaksanakan upacara di Lapangan Bola Kaki Kodim 0210/TU (Lapangan Tangsi), Jalan Melanton Siregar, Hutagalung Siwaluompu, Kecamatan Tarutung, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara. Bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Bupati Kabupaten Tapanuli Utara Dr. Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat, S.Si., M.Si.
Dalam amanatnya, bupati mengajak kepada semua elemen yang ada untuk menjaga persatuan dan kesatuan serta menjadikan hari bersejarah ini sebagai momentum terbaik dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila sebagai landasan serta ideologi bangsa Indonesia. Selanjutnya, agar senantiasa menjaga semangat kebersamaan dan kerja sama, serta menghimbau kepada masyarakat untuk menjaga nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan sehari-hari serta terus ikut membantu membangun Kabupaten Tapanuli Utara dengan semangat bergotong royong. Hadir pada upacara tersebut antara lain para unsur Forkopimda, jajaran Pemkab Tapanuli Utara, TNI-Polri, ASN, dan tamu undangan lainnya.
Di tempat terpisah, Dandim 0210/TU Letkol Arm Kiky Hardian, S.Sos., mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh Forum Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang meliputi Kabupaten Toba, Humbahas, Samosir, dan Tapanuli Utara. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada para ASN, TNI/Polri, instansi terkait, dan segenap lapisan masyarakat yang telah menyukseskan pelaksanaan upacara dalam memperingati Hari Kesaktian Pancasila sehingga berjalan dengan aman, tertib, dan lancar.
Ucapan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya juga disampaikan kepada seluruh prajurit, PNS, dan segenap keluarga besar Kodim 0210/TU yang meliputi Kabupaten Toba, Humbahas, Samosir, dan Tapanuli Utara, yang telah melaksanakan tugas dengan penuh dedikasi tinggi, loyalitas, serta semangat yang sangat luar biasa. “Kami ucapkan terima kasih dan penghargaan yang tulus dan setinggi-tingginya kepada seluruh keluarga besar Kodim 0210/TU,” tegas Dandim 0210/TU Letkol Arm Kiky Hardian, S.Sos., sambil mengingatkan agar seluruh tugas, kegiatan, dan program dilaksanakan dengan berani, tulus, dan ikhlas, sesuai slogan yang selalu disampaikan oleh Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) ke-27, almarhum Jenderal TNI (Purn.) Pramono Edhie Wibowo, kepada prajurit di manapun berada dan bertugas.
Orang nomor satu di jajaran Kodim 0210/TU tersebut mengungkapkan pentingnya bagi kita semua untuk menjaga komitmen bersama dalam menjaga nilai-nilai Pancasila, termasuk memahami dan mengamalkan sila-sila yang ada di dalamnya. Sehingga, akan tercipta semangat persatuan dan kesatuan bangsa serta meningkatkan semangat nasionalisme, patriotisme, tingginya rasa cinta tanah air, dan semangat dalam membela bangsa dan negara, serta bagaimana kita bersama-sama membangun bangsa Indonesia menuju masyarakat Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera. Hal tersebut sangat relevan dengan tema Peringatan Hari Kesaktian Pancasila tahun 2026, yaitu: “Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur”.
Di sisi lain yang tak kalah penting adalah bagaimana kita sebagai generasi penerus bangsa mengerti makna dan filosofi dari Pancasila, serta memahami sejarah singkat lahirnya Pancasila yang digagas oleh para the founding fathers atau para pejuang pendahulu kita yang telah rela berkorban jiwa dan raga, harta dan benda, serta nyawa sekalipun demi membela Pancasila, tetap berkibarnya Sang Dwiwarna Merah Putih, dan tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat kita cintai bersama.
Artinya, makna dari memperingati Hari Kesaktian Pancasila bukan hanya sekadar melaksanakan upacara semata, namun di balik itu ada nilai-nilai historis yang harus kita ketahui dan dijadikan momen sejarah yang tidak boleh dilupakan, yaitu terjadinya sebuah peristiwa berdarah beberapa tahun yang lalu di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Singkatnya, peristiwa tersebut terjadi akibat sebuah gerakan yang sistematis dan telah direncanakan dengan matang untuk merongrong, makar, serta melakukan kudeta terhadap kedaulatan bangsa Indonesia dan Pancasila. Imbas dari tragedi berdarah yang disebut dengan Gerakan 30 September/PKI (G30S/PKI) pada tahun 1965 tersebut mengakibatkan gugurnya pahlawan kusuma bangsa yang disebut Pahlawan Revolusi. Korban dari kebiadaban tragedi tersebut mengakibatkan meninggalnya putra-putra terbaik bangsa, antara lain:
Jenderal TNI (Anumerta) Ahmad Yani – Menteri/Panglima Angkatan Darat
Letnan Jenderal (Anumerta) R. Suprapto – Deputi II Menteri/Panglima AD
Letnan Jenderal (Anumerta) M.T. Haryono – Deputi III Menteri/Panglima AD
Letnan Jenderal (Anumerta) S. Parman – Asisten I Menteri/Panglima AD
Mayor Jenderal (Anumerta) D.I. Panjaitan – Asisten IV Menteri/Panglima AD
Mayor Jenderal (Anumerta) Sutoyo Siswomiharjo – Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal AD
Kapten (Anumerta) Pierre Andreas Tendean – Ajudan Jenderal A.H. Nasution

Selain korban di atas, ada salah satu momen paling tragis dalam tragedi Gerakan 30 September (G30S/PKI) tahun 1965 tersebut, di mana seorang tokoh militer yang sangat berpengaruh pada waktu itu serta sangat taat beribadah kepada Allah Subhanahuwata’ala sangat menentang paham komunis di Indonesia. Pada malam aksi penculikan tersebut, Jenderal Besar Dr. Abdul Haris (A.H.) Nasution berhasil lolos dari upaya penculikan oleh pasukan Cakrabirawa yang tergabung dalam G30S/PKI. Beliau berhasil melarikan diri atas permintaan istri tercinta, Ibu Johana Sunarti Nasution (akrab dipanggil Bu Nas), dengan cara melompati tembok belakang rumahnya. Namun, putri bungsu tercinta yang baru berusia 5 tahun, Ade Irma Suryani Nasution, tertembak ketika berusaha melindungi ayahnya dan terkena tiga peluru di bagian punggung. Setelah sempat dirawat intensif selama 5 hari di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, ia akhirnya meninggal dunia pada tanggal 6 Oktober 1965.
Singkatnya, aksi G30S/PKI tersebut akhirnya dapat dilumpuhkan bahkan ditumpas sampai ke akar-akarnya atas perintah langsung dari Panglima Kostrad pada waktu itu yang dijabat oleh Mayjen TNI Soeharto kepada Kolonel Inf Sarwo Edhie Wibowo (Komandan RPKAD/Kopassus saat ini), untuk menumpas aksi G30S/PKI serta membersihkan tempat-tempat penting lainnya dari pengaruh gerakan tersebut guna membalikkan keadaan serta menormalkan kembali situasi dan kondisi agar tercipta stabilitas, keamanan, ketenteraman, dan kenyamanan di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Seperti kita ketahui bersama, Jenderal Sarwo Edhie Wibowo merupakan tokoh perwira militer Indonesia dan mantan Komandan RPKAD yang memainkan peran penting dalam penumpasan G30S/PKI atas perintah Jenderal Besar H. Muhammad Soeharto (Presiden Republik Indonesia ke-2). Beliau diberikan penghormatan dan penghargaan tertinggi oleh bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan menerima gelar Pahlawan Nasional di Jakarta pada 10 November 2025. Pemberian gelar Pahlawan Nasional tersebut dipimpin langsung oleh Presiden Republik Indonesia Jenderal TNI (Purn.) (HOR) Prabowo Subianto dan diterima secara langsung oleh putri sulung Jenderal Besar H. Muhammad Soeharto, yaitu Hj. Siti Hardijanti Hastuti Rukmana (Tutut Soeharto), didampingi oleh putra ketiga Jenderal Besar H. Muhammad Soeharto, yaitu Bambang Trihatmodjo.
Selain itu, almarhum Jenderal TNI (Purn.) Sarwo Edhie Wibowo juga memiliki seorang anak laki-laki yang berkarier sebagai prajurit TNI hingga meniti karier ke puncak pimpinan dan dipercayakan oleh negara sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) ke-27 (almarhum Jenderal TNI (Purn.) Pramono Edhie Wibowo). Almarhum Sarwo Edhie Wibowo juga merupakan ayah kandung dari almarhumah Ibu Ani Yudhoyono serta mertua Presiden ke-6 Republik Indonesia Jenderal TNI (HOR) (Purn.) Prof. Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono. Gelar pahlawan nasional untuk almarhum diterima oleh cucunya yang menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan dalam Kabinet Merah Putih, Dr. H. Agus Harimurti Yudhoyono, M.Sc., M.P.A., M.A., pada tanggal 10 November 2025 yang lalu, kata Letkol Arm Kiky Hardian, S.Sos.
Oleh sebab itu, kami sebagai prajurit sejati yang sangat mencintai bangsa dan negara Indonesia tidak akan pernah menginginkan peristiwa tersebut terulang kembali di Negara Kesatuan Republik Indonesia. “Kami tidak ingin terjadi lagi peristiwa G30S/PKI terulang kembali di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang sangat kami hormati dan cintai bersama,” tegas Dandim 0210/TU Letkol Arm Kiky Hardian, S.Sos.
Kembali pada penetapan Pancasila sebagai dasar negara, cikal bakalnya bermula pada tanggal 1 Juni 1945 ketika Ir. H. Soekarno (Presiden Pertama Republik Indonesia) menyampaikan pidato berisi gagasan lima dasar negara dalam sidang BPUPKI. Akhirnya, setelah gagasan tersebut diterima dan disetujui oleh seluruh komponen bangsa, Pancasila dijadikan sebagai dasar negara. Selanjutnya, segenap elemen yang ada berusaha sekuat tenaga untuk mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Pada saat pemegang kekuasaan (ulil amri) di Negara Indonesia dijabat oleh Presiden Republik Indonesia Jenderal Besar Muhammad Soeharto, implementasi Pancasila terus dilakukan dan dilanjutkan demi meningkatkan pembangunan di segala bidang serta meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia.
Masa kepemimpinan Presiden ke-2 Negara Kesatuan Republik Indonesia Jenderal Besar Muhammad Soeharto dicirikan oleh sentralisasi yang kuat, di mana Pancasila dijadikan fondasi dasar utama serta pedoman dalam menjaga stabilitas nasional di seluruh lapisan masyarakat.
Salah satu upaya Presiden RI pada waktu itu dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan, khususnya bagi umat Islam, adalah dengan mendirikan sebuah yayasan berbasis Pancasila, termasuk pengintegrasian Pancasila ke dalam kurikulum pendidikan pada masa pemerintahan Republik Indonesia yang dipimpin oleh Jenderal Besar H. Muhammad Soeharto.
Presiden Republik Indonesia ke-2 Jenderal Besar H. Muhammad Soeharto mendirikan beberapa yayasan yang menyandang nama “Pancasila”. Salah satu yang paling monumental dan berdampak luas bagi masyarakat adalah Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila (YAMP) yang didirikan pada 17 Februari 1982, yang bertujuan untuk menghimpun daya dan dana dari umat Islam guna memenuhi kebutuhan sarana ibadah di Indonesia, khususnya pembangunan masjid yang bermuara pada peningkatan kualitas iman dan takwa umat Islam di seluruh Indonesia.
Mekanisme pendanaan dihimpun melalui sumbangan sukarela (sedekah) yang dipotong langsung secara rutin dari gaji para Pegawai Negeri Sipil (PNS), anggota ABRI (TNI/Polri), dan anggota KORPRI Muslim setiap bulannya. Sehingga, atas izin Allah Subhanahuwata’ala, pemerintahan Republik Indonesia yang dipimpin Jenderal Besar H. Muhammad Soeharto berhasil membangun 999 masjid berarsitektur khas (atap tumpang tiga dengan simbol memolo Pancasila) yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia.
Ada satu hal menarik yang kita ketahui bersama, bahwa Pancasila juga pernah diutarakan oleh Bung Karno pada Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada 30 September 1960 yang dihadiri oleh 99 negara anggota PBB. Dalam pidato tersebut, Presiden Pertama Republik Indonesia tersebut menekankan pentingnya kesetaraan manusia, persaudaraan universal, serta menolak kolonialisme dan diskriminasi. Pada kesempatan yang sama, Bung Karno juga menawarkan dan menyampaikan Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup yang tidak hanya berlaku bagi Indonesia, tetapi juga dapat menjadi pedoman perdamaian dunia. Beliau menawarkan Pancasila ke kancah internasional seraya memaparkan lima sila dasar negara Indonesia—Ketuhanan, Kemanusiaan, Nasionalisme/Kebangsaan, Demokrasi, dan Keadilan Sosial—sebagai solusi nilai universal untuk mengatasi perpecahan dunia.
Selanjutnya beliau mengutip firman Allah Subhanahuwata’ala dalam Al-Qur’an Surat Al-Hujurat ayat 13, yang artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti.” Artinya, siapapun kita, apapun pangkat dan jabatan kita, apapun suku kita, dan apapun bangsa kita, tentunya yang paling mulia di sisi Allah Subhanahuwata’ala adalah yang paling bertakwa.
Sumber: Pendim 0210/TU
(Nur Kennan Tarigan)





























