Dua Hadiah Simbolis dari Dua Tokoh : KH Imam Jazuli Lc., MA dan Menag Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA

EDI SUPRIADI

- Redaksi

Rabu, 8 Juli 2026 - 06:39 WIB

5087 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Oleh : Ahmad Rifai (Santri Ndalem PP Bina Insan Mulia, Mahasiswa program Doktoral fakultas Hukum Universitas Gunung Djati Cirebon)

Nasionaldetik.com,—- 08 Juli 2026
Pada tanggal 5 Juli 2026 kemarin, nampaknya ada “cahaya” yang berbeda di Ndalem Bina Insan Mulia. Ada sebuah keheningan khidmat, sekaligus gemuruh rasa syukur yang membuncah di dalam dada saya sebagai seorang santri. Hari itu, saya menjadi saksi dari dialog kebudayaan dan spiritualitas yang amat mendalam.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dua sosok teladan bertemu dalam petemuan rasa: Guru Bangsa yang juga Menteri Agama RI, Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA., dan ayahanda tercinta, KH. Imam Jazuli. Pertemuan berharga tersebut mewariskan sebuah momen magis ketika kedua beliau saling bertukar cenderamata. Sebuah pertukaran yang membawa pesan filosofis teramat benderang untuk kita renungkan bersama.

Bapak Menteri Agama dengan segala kerendahan hati membawa buah tangan berupa 10 buku tebal yang baru diterbitkan oleh Kementerian Agama. Bagi kami di dunia pesantren, buku adalah hamparan samudra tanpa tepi dan jendela mata pengetahuan dunia. Sepuluh buku tersebut laksana lentera yang siap menerangi akal budi umat, mengingatkan tugas pertama seorang hamba adalah iqra’—membaca dan merenungi ayat-ayat-Nya.

Sebagai balasan, Ayahanda KH. Imam Jazuli menyerahkan mahakarya pusaka yang selama ini tersimpan erat di Ndalem: sebilah keris warisan era Garap Kerajaan Cirebon awal bernama “Pandawa Cinarita”. Sesaat ketika keris itu berpindah tangan, saya merasakan getaran sejarah dan doa yang mengalir halus.

Pusaka luk lima ini sarat akan sanepo dan lambang karakter Pandawa yang memegang teguh kebenaran. Di dalam lekukannya, tersimpan sifat utama manusia: kejujuran yang lurus, kekuatan yang mengayomi, ketegasan prinsip, serta kelembutan kasih sayang. Keris ini terasa begitu selaras bersemayam di tangan Pak Menag yang dikenal teduh namun kokoh.

Momen pertukaran ini menjelma menjadi refleksi spiritual yang indah mengenai perpaduan buku dan keris. Buku mengajarkan kita cara berpikir dan memahami alam semesta, sementara Keris Pandawa Cinarita mengingatkan cara berdiri tegak sebagai manusia yang berjiwa ksatria.

Pertemuan kemarin adalah pembuktian bahwa ilmu dan amaliat, modernitas dan tradisi, mampu melebur dalam harmoni yang sempurna di pesantren. Terima kasih atas keteladanan yang bersahaja ini, semoga langkah kaki Pak Menag dalam memimpin umat selalu dinaungi cahaya kebenaran.

Di tengah derasnya arus globalisasi yang sering kali mencabut manusia modern dari akar budayanya, sinergi antara buku dan keris ini hadir sebagai jawaban mutakhir. Pemimpin masa kini tidak hanya dituntut cerdas secara akademis, melainkan wajib memiliki jangkar spiritual yang menghujam bumi. Pertemuan ini menegaskan bahwa menjadi modern tidak berarti harus mengorbankan identitas luhur yang telah membentuk bangsa ini selama berabad-abad.

Pesantren Bina Insan Mulia, dalam dinamika perkembangannya, terbukti bukan sekadar tempat untuk menghafal teks-teks keagamaan masa lalu. Melalui ruang dialog yang hangat seperti ini, pesantren menegaskan fungsinya sebagai laboratorium peradaban. Di sinilah titik temu antara kebijakan formal negara dan denyut nadi spiritual masyarakat dilebur menjadi satu energi positif yang menggerakkan perubahan.

Menatap masa depan Indonesia yang penuh dengan tantangan global, kita membutuhkan lebih banyak figur yang mampu membaca zaman tanpa kehilangan kompas moralnya. Ketajaman analisis yang ditawarkan oleh literatur modern akan menjadi tumpul tanpa disertai keteguhan memegang dharma yang disimbolkan oleh sebilah pusaka. Pemimpin sejati adalah mereka yang mampu menggunakan penanya untuk mencerdaskan, sekaligus menggunakan jiwanya untuk mengayomi sesama tanpa sekat.

Bagi kami para santri yang menyaksikan langsung momen bersejarah ini, ada sebuah transformasi paradigma yang membakar semangat di dalam dada. Kami belajar bahwa menjadi abdi ilmu berarti harus siap membuka diri terhadap cakrawala dunia yang luas, sekaligus tetap takzim merawat tradisi leluhur. Peristiwa ini meruntuhkan dinding pemisah buatan antara intelektualitas modern dan spiritualitas tradisional, membuktikan keduanya bisa berjalan beriringan dengan anggun.

Pada akhirnya, silaturahmi antara dua tokoh besar ini meninggalkan warisan pemikiran yang akan terus bergaung melampaui sekat ruang pertemuan. Ketika lentera ilmu pengetahuan bersanding mesra dengan pusaka penjaga moral, Indonesia sedang mengirimkan pesan kuat ke penjuru dunia. Kita adalah bangsa yang besar, yang maju karena keluasan pengetahuannya, dan abadi karena keluhuran budi pekertinya.

Tim Redaksi

Berita Terkait

Kuasa Hukum Terdakwa Soroti Kejanggalan BAP, Majelis Hakim Perintahkan Hadirkan Saksi Verbalisan
Kiai Said dan Kiai Imjaz Serukan Saatnya Pesantren Menjadi Top of the Mind Pilihan Masa Depan
Membaca Arus Bawah di Cirebon: Aliansi Strategis Kiai Said dan Kiai Imam Jazuli Jelang Muktamar ke-35 NU

Berita Terkait

Minggu, 25 Oktober 2026 - 08:41 WIB

Gara-gara Sampah Ditinggal Sejak Sore, Kebun Mangga di Majalengka Membara: 5 Kambing Ludes Terbakar!

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 23:15 WIB

Kampanye Kreatif dari Warung ke Warung, Babinsa Kodim 0206/Dairi Sosialisasikan Rekrutmen Prajurit TNI AD

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 22:59 WIB

Babinsa 03/Parongil Sambangi Rumah Warga, Rekrutmen TNI AD 2027 Disosialisasikan dari Pintu ke Pintu

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 22:40 WIB

Bupati Karo Hadiri Rakornas TPAKD 2026, Perkuat Akses Keuangan untuk Kesejahteraan Masyarakat

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 20:10 WIB

Dapat Suntikan Semangat dari Kabag Umum, Pers Merangin Jaguar FC Tahan Imbang Pers Tanah Pilih

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 20:08 WIB

Serda Djoko, Pembangunan Pos Kamling Upaya Tingkatkan Keamanan Lingkungan & Komsos

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 19:49 WIB

*Sentuhan Humanis TMMD ke-130, Prajurit Kodim 0209/LB Merajut Kebersamaan dengan Warga di Torgamba*

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 19:36 WIB

*Setelah Tiga Hari Pencarian, Anak yang Dilaporkan Hilang di Toboh Gadang Timur Ditemukan Meninggal Dunia*

Berita Terbaru