NasionalDetik.com
TEGAL — Sri Susuhunan Amangkurat I (1646–1677) tetap menjadi salah satu penguasa Kesultanan Mataram yang paling diselimuti misteri. Di balik catatan sejarah formal, sebuah narasi tutur (folklor) kuat di wilayah Tegal meyakini bahwa sang raja sebenarnya adalah penganut Agama Jawa Dipa (Kejawen murni), bukan Islam ortodoks.
Spekulasi ini diperkuat oleh keberadaan sosok Eyang Siwi Siti, guru spiritual sang raja yang menetap di Desa Depok, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal. Eyang Siwi Siti merupakan garis keturunan langsung dari Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Wiragati, seorang bangsawan Majapahit yang menduduki posisi strategis sebagai penasihat utama raja Majapahit.
Keterikatan spiritual yang mendalam ini membuat Desa Depok menjadi tempat berlindung bagi keluarga inti keraton dan permaisuri selama masa krisis Mataram. Hubungan ini pula yang menjelaskan mengapa ketika para anggota keluarga raja tersebut wafat, mereka dibawa untuk dimakamkan di sekitar kompleks makam Amangkurat I di Tegal Arum (Desa Pesarean, Adiwerna), meskipun harus menempuh jarak geografis sejauh 13 kilometer dari Desa Depok.
Misteri Jasad dan Ritual Pemakaman Kuno.
Bukti paling mencolok yang sering digaungkan penganut ajaran Jawa asli adalah tata cara pemakaman Amangkurat I. Menurut kesaksian turun-temurun dari para juru kunci, jasad sang raja konon tidak dibungkus kain kafan layaknya syariat Islam, melainkan dimakamkan dalam posisi duduk (jumeneng) mengenakan pakaian kebesaran raja.
Pada masa lalu, liang lahat tersebut sengaja tidak ditutup tanah padat (kijing), melainkan dilapisi struktur transparan serupa kaca tipis purba. Desain ini bertujuan agar utusan dari Keraton Surakarta Hadiningrat dapat memeriksa kondisi jasad yang mitosnya tidak membusuk, serta melakukan ritual pemotongan rambut dan kuku tahunan setiap bulan Sura.
Secara historis-arkeologis, visualisasi pemakaman dengan pakaian kebesaran dan posisi duduk ini merupakan bentuk akulturasi budaya transisi Hindu-Buddha- Kejawen menuju Islam, yang melambangkan kekuasaan raja yang abadi (kamulyan). Pemufakatan di makamkan dengan cara jumeneng setelah eyang Siwi di temukan dan Jenazah sudah diawetkan.
Lini Masa Perubahan Fisik Makam
Seiring berjalannya waktu, benteng fisik dan tata ruang makam Tegal Arum mengalami dua fase perubahan besar:
• Dekade 1960-an (Penutupan Permanen): Tradisi melihat jasad dari penutup kaca resmi berakhir. Atas kesepakatan bersama antara pihak Keraton Surakarta dan para tokoh agama, makam akhirnya ditutup permanen menggunakan batu nisan (kijing) dan atasnya di tutup kaca demi menghindari potensi kultus individu dan kemusyrikan di masyarakat..
• Tahun 1982 (Pemugaran Cagar Budaya): Pemerintah Republik Indonesia melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melakukan pemugaran total pada kompleks makam. Termasuk menutup kaca di atas makam supaya tertutup penuh. Proyek pelestarian ini diresmikan langsung oleh Dr. Daoed Joesoef yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI periode 1978–1983, guna memperkuat struktur bangunan dari kerusakan cuaca.
Meskipun dokumen resmi sejarah mencatat Amangkurat I sebagai susuhunan Muslim bergelar Khalifatullah, eksistensi trah KRT Wiragati di Pangkah serta misteri pemakaman Tegal Arum menegaskan betapa kuatnya akar budaya spiritual Jawa asli yang melingkari akhir hayat penguasa Mataram Islam tersebut.
Dan sebagian masyarakat penganut kejawen masih ada yang meyakini beliau sebagai Raja yang masih jumeneng sampai ada raja Mataram beragama Kejawen yang akan jumeneng kelak sesuai sebagian kepercayaan Kejawen murni.




























