Hubungan Cerita Leluhur Desa Depok dan Makam Amangkurat I Desa Pesarean.

EDI SUPRIADI

- Redaksi

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 00:29 WIB

5042 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

NasionalDetik.com

 

TEGAL — Sri Susuhunan Amangkurat I (1646–1677) tetap menjadi salah satu penguasa Kesultanan Mataram yang paling diselimuti misteri. Di balik catatan sejarah formal, sebuah narasi tutur (folklor) kuat di wilayah Tegal meyakini bahwa sang raja sebenarnya adalah penganut Agama Jawa Dipa (Kejawen murni), bukan Islam ortodoks.
Spekulasi ini diperkuat oleh keberadaan sosok Eyang Siwi Siti, guru spiritual sang raja yang menetap di Desa Depok, Kecamatan Pangkah, Kabupaten Tegal. Eyang Siwi Siti merupakan garis keturunan langsung dari Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Wiragati, seorang bangsawan Majapahit yang menduduki posisi strategis sebagai penasihat utama raja Majapahit.
Keterikatan spiritual yang mendalam ini membuat Desa Depok menjadi tempat berlindung bagi keluarga inti keraton dan permaisuri selama masa krisis Mataram. Hubungan ini pula yang menjelaskan mengapa ketika para anggota keluarga raja tersebut wafat, mereka dibawa untuk dimakamkan di sekitar kompleks makam Amangkurat I di Tegal Arum (Desa Pesarean, Adiwerna), meskipun harus menempuh jarak geografis sejauh 13 kilometer dari Desa Depok.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

 

Misteri Jasad dan Ritual Pemakaman Kuno.

 

Bukti paling mencolok yang sering digaungkan penganut ajaran Jawa asli adalah tata cara pemakaman Amangkurat I. Menurut kesaksian turun-temurun dari para juru kunci, jasad sang raja konon tidak dibungkus kain kafan layaknya syariat Islam, melainkan dimakamkan dalam posisi duduk (jumeneng) mengenakan pakaian kebesaran raja.
Pada masa lalu, liang lahat tersebut sengaja tidak ditutup tanah padat (kijing), melainkan dilapisi struktur transparan serupa kaca tipis purba. Desain ini bertujuan agar utusan dari Keraton Surakarta Hadiningrat dapat memeriksa kondisi jasad yang mitosnya tidak membusuk, serta melakukan ritual pemotongan rambut dan kuku tahunan setiap bulan Sura.
Secara historis-arkeologis, visualisasi pemakaman dengan pakaian kebesaran dan posisi duduk ini merupakan bentuk akulturasi budaya transisi Hindu-Buddha- Kejawen menuju Islam, yang melambangkan kekuasaan raja yang abadi (kamulyan). Pemufakatan di makamkan dengan cara jumeneng setelah eyang Siwi di temukan dan Jenazah sudah diawetkan.

Lini Masa Perubahan Fisik Makam

Seiring berjalannya waktu, benteng fisik dan tata ruang makam Tegal Arum mengalami dua fase perubahan besar:
• Dekade 1960-an (Penutupan Permanen): Tradisi melihat jasad dari penutup kaca resmi berakhir. Atas kesepakatan bersama antara pihak Keraton Surakarta dan para tokoh agama, makam akhirnya ditutup permanen menggunakan batu nisan (kijing) dan atasnya di tutup kaca demi menghindari potensi kultus individu dan kemusyrikan di masyarakat..
• Tahun 1982 (Pemugaran Cagar Budaya): Pemerintah Republik Indonesia melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan melakukan pemugaran total pada kompleks makam. Termasuk menutup kaca di atas makam supaya tertutup penuh. Proyek pelestarian ini diresmikan langsung oleh Dr. Daoed Joesoef yang menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI periode 1978–1983, guna memperkuat struktur bangunan dari kerusakan cuaca.
Meskipun dokumen resmi sejarah mencatat Amangkurat I sebagai susuhunan Muslim bergelar Khalifatullah, eksistensi trah KRT Wiragati di Pangkah serta misteri pemakaman Tegal Arum menegaskan betapa kuatnya akar budaya spiritual Jawa asli yang melingkari akhir hayat penguasa Mataram Islam tersebut.
Dan sebagian masyarakat penganut kejawen masih ada yang meyakini beliau sebagai Raja yang masih jumeneng sampai ada raja Mataram beragama Kejawen yang akan jumeneng kelak sesuai sebagian kepercayaan Kejawen murni.

Berita Terkait

*Bangun Komunikasi Terbuka, Kasad Undang Pemred Media Nasional ke Mabesad*
Personel TNI dari Kodim 0205/Tanah Karo Patroli Zona Merah Gunung Sinabung
GOTONG ROYONG BABINSA KORAMIL 07/JUHAR BERSAMA WARGA, BANGUN JEMBATAN GARUDA DESA PERNANTIN
Kepala DLH Bantah Hina Wartawan, Ketua DPD IWO Indonesia Kab. Bekasi : Jangan Alihkan Subtansi Ke Persoalan Personal
Patroli Kolaborasi TNI dan Masyarakat, Babinsa Koramil 01/BJ Jaga Kamtibmas dan Pantau Wilayah Barusjahe
Dandim 0205/Tanah Karo Ucapkan Selamat HUT ke-81 Korps Infanteri TNI AD: Teruslah Menjadi Garda Terdepan Penjaga Kedaulatan NKRI
Aksi Nyata Personel Koramil 1717/Kadipaten Bersama Gabungan Gelar Bersih-Bersih Sungai Cikasarung
Semarak HUT TNI ke-81 dan HUT HIMPAUDI ke-2 di Leuwimunding, Danramil: Momen Pererat Silaturahmi

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 00:29 WIB

Hubungan Cerita Leluhur Desa Depok dan Makam Amangkurat I Desa Pesarean.

Jumat, 9 Oktober 2026 - 23:09 WIB

*Bangun Komunikasi Terbuka, Kasad Undang Pemred Media Nasional ke Mabesad*

Jumat, 9 Oktober 2026 - 23:01 WIB

Personel TNI dari Kodim 0205/Tanah Karo Patroli Zona Merah Gunung Sinabung

Jumat, 9 Oktober 2026 - 22:51 WIB

GOTONG ROYONG BABINSA KORAMIL 07/JUHAR BERSAMA WARGA, BANGUN JEMBATAN GARUDA DESA PERNANTIN

Jumat, 9 Oktober 2026 - 22:43 WIB

Patroli Kolaborasi TNI dan Masyarakat, Babinsa Koramil 01/BJ Jaga Kamtibmas dan Pantau Wilayah Barusjahe

Jumat, 9 Oktober 2026 - 22:35 WIB

Dandim 0205/Tanah Karo Ucapkan Selamat HUT ke-81 Korps Infanteri TNI AD: Teruslah Menjadi Garda Terdepan Penjaga Kedaulatan NKRI

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:55 WIB

Aksi Nyata Personel Koramil 1717/Kadipaten Bersama Gabungan Gelar Bersih-Bersih Sungai Cikasarung

Jumat, 9 Oktober 2026 - 21:51 WIB

Semarak HUT TNI ke-81 dan HUT HIMPAUDI ke-2 di Leuwimunding, Danramil: Momen Pererat Silaturahmi

Berita Terbaru