KH Alwi Hasan Arsyad : “Poros Tengah itu adalah Gus Gudfan, Solusi Abad Kedua NU

EDI SUPRIADI

- Redaksi

Selasa, 14 Juli 2026 - 14:22 WIB

50121 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tulungagung,  Nasionaldetik.com – 13 Juli 2026 – Setiap zaman menghadirkan tantangannya sendiri. Begitu pula Nahdlatul Ulama (NU). Di tengah perubahan sosial, disrupsi teknologi, tantangan ekonomi umat, dan dinamika geopolitik global, pertanyaan yang patut diajukan bukan sekadar “siapa yang akan memimpin?”, melainkan “kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan NU pada masa depan?”

Dalam tradisi Islam, kepemimpinan bukanlah privilege, melainkan amanah. Al-Qur’an mengingatkan:

۞ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَمٰنٰتِ اِلٰٓى اَهْلِهَاۙ وَاِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِالْعَدْلِۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ سَمِيْعًا ۢ بَصِيْرًا

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisa’: 58).

Ayat tersebut menegaskan bahwa legitimasi kepemimpinan tidak semata bertumpu pada popularitas, tetapi pada kapasitas untuk memikul amanah dengan adil dan bertanggung jawab.

Nahdlatul Ulama tidak pernah kekurangan tokoh. Yang selalu menjadi tantangan adalah menemukan pemimpin yang mampu menyatukan warisan ulama dengan tuntutan zaman. Di tengah perubahan sosial yang semakin cepat, tantangan ekonomi umat yang semakin kompleks, serta kebutuhan akan penguatan persatuan warga nahdliyin, PBNU memerlukan kepemimpinan yang tidak hanya memahami tradisi, tetapi juga mampu menggerakkannya menjadi kekuatan untuk masa depan.

Sebagai seorang tokoh masyarakat, saya meyakini bahwa kepemimpinan dalam NU bukanlah soal siapa yang paling lantang berbicara, melainkan siapa yang paling siap mengemban amanah. Amanah dalam tradisi pesantren tidak lahir dari ambisi, tetapi dari keikhlasan untuk mengabdi, dari kedalaman ilmu yang melahirkan kebijaksanaan, serta dari akhlak yang mampu merangkul perbedaan.

Di persimpangan zaman seperti hari ini, ketika Nahdlatul Ulama menghadapi berbagai tantangan internal dan eksternal, regenerasi kepemimpinan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Organisasi sebesar NU membutuhkan sosok yang mampu menjaga marwah para muassis, memperkuat ukhuwah, serta membawa jam’iyah tetap relevan dalam menjawab persoalan umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Dalam pandangan saya, Gus Gudfan Arif Ghofur merupakan figur yang layak dalam proses regenerasi kepemimpinan PBNU. Penilaian ini bukan semata karena latar belakang pesantren yang melekat pada dirinya, di tengah riuh rendah tarikan geopolitik domestik dan dinamika internal yang terkadang menghangat, warga Nahdliyin hari ini membutuhkan sosok yang mampu menjadi perekat, bukan pemisah. Di titik inilah, nama H. Gudfan Arif Ghofur atau yang akrab disapa Gus Gudfan muncul sebagai representasi kuat dari Poros Tengah.

– *Menjembatani Tradisi dan Modernitas*

​Poros Tengah dalam konteks PBNU hari ini bukan sekadar posisi kompromi politik, melainkan sebuah kebutuhan sosiologis. NU membutuhkan pemimpin yang teguh memegang sanad keilmuan pesantren (tradisi klasik), namun di saat yang sama memiliki kapasitas manajerial yang modern untuk menakhodai NU di abad kedua ini.

​Gus Gudfan memenuhi kriteria tersebut. Sebagai putra dari KH. Arif Ghofur dan cucu dari ulama kharismatik KH. Abdul Ghofur (Pesantren Sunan Drajat, Lamongan), ia memiliki akar legitimasi kultural yang sangat kuat di kalangan pesantren basah. Di sisi lain, rekam jejaknya sebagai profesional dan pengusaha sukses memberikan perspektif baru tentang bagaimana mengelola jam’iyah (organisasi) secara mandiri, transparan, dan akuntabel.

– *​Netralitas dan Ruang Rekonsiliasi*

​Poros Tengah adalah jawaban ketika faksi-faksi internal mulai menajam. Ia tidak berjarak dengan kelompok mana pun, karena tugas utamanya adalah merangkul semua elemen Nahdliyin.

​Salah satu modal terbesar Gus Gudfan adalah posisinya yang relatif bersih dari polarisasi politik masa lalu. Ketika kepemimpinan NU sering kali diuji oleh tarikan kepentingan politik praktis, figur Poros Tengah seperti Gus Gudfan menawarkan netralitas yang menyegarkan. Ia tidak datang untuk memenangkan satu kelompok atas kelompok lain, melainkan untuk mengonsolidasikan kembali energi warga NU demi kemaslahatan umat.

​Sebagai Bendahara PBNU saat ini, ia juga memahami betul denyut nadi organisasi secara struktural. Hal ini membuatnya tidak perlu meraba-raba lagi dalam memetakan potensi dan tantangan NU ke depan.

– *​Menuju Kemandirian Ekonomi Nahdliyin*

​Jika kita melihat tantangan NU di abad kedua, transformasi ekonomi warga adalah agenda yang tidak bisa ditunda. Di sinilah letak keunggulan komparatif Gus Gudfan. Dengan latar belakang dunianya yang akrab dengan sektor riil dan korporasi, Gus Gudfan dinilai mampu menerjemahkan visi besar PBNU tentang kemandirian ekonomi menjadi program-program yang konkret dan terukur.

​Di bawah kepemimpinannya kelak, Poros Tengah ini diharapkan mampu menggeser diskursus PBNU: dari yang semula terlalu dominan pada isu-isu politik kekuasaan, menjadi fokus pada penguatan ekonomi pelataran (warga akar rumput), digitalisasi pesantren, dan peningkatan mutu pendidikan Nahdliyin.

PBNU membutuhkan pemimpin yang mampu menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan sebagai alasan untuk berpecah. Pemimpin yang sanggup merangkul seluruh elemen Nahdlatul Ulama, memperkuat pendidikan pesantren, membangun kemandirian ekonomi umat, serta menjaga NU tetap menjadi pilar Islam yang moderat, rahmatan lil ‘alamin, dan berkomitmen terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Karena itu, saya memandang bahwa adanya Gus Gudfan Arif Ghofur dalam regenerasi kepemimpinan PBNU merupakan bagian dari ikhtiar menghadirkan generasi penerus yang mampu menyambung mata rantai perjuangan para ulama. Menghadirkan figur-figur yang memiliki integritas, kapasitas, dan semangat khidmah adalah ikhtiar yang layak diperjuangkan.

Pada akhirnya, sejarah Nahdlatul Ulama tidak dibangun oleh mereka yang mengejar kedudukan, melainkan oleh mereka yang bersedia memikul amanah. Di persimpangan zaman inilah kita berharap lahir kepemimpinan yang mampu menyatukan warisan para ulama dengan harapan generasi masa depan. karna yang dibutuhkan bukan sekadar tokoh baru, melainkan kesetiaan pada nilai-nilai yang telah menjadikan Nahdlatul Ulama tetap kokoh selama satu abad: ilmu yang bersanad, akhlak yang membimbing, musyawarah yang mempersatukan, dan pengabdian yang tidak mengenal batas. serta sosok yang dapat menjaga khidmah Nahdlatul Ulama kepada umat, bangsa, dan kemanusiaan. ( Red )

Berita Terkait

Beri Jamdan ke Prajurit, Dandim Majalengka Minta Babinsa Bina Calon Prajurit TNI AD Tanpa Pungli
Fidiel Castro Minta Dugaan Keterlibatan K3S, MKKS, dan Disdikbud Diusut Transparan
PPWI Ogan Ilir Sambangi Polda Sumsel, Fidiel Castro: Kebenaran Harus Diungkap, Jangan Biarkan Fitnah Berlarut!
Tak Henti-hentinya Satgas TMMD 130 Kodim 0209/Labuhanbatu, Berjibaku kejar Sasaran Pisik.
Kunjungan DPD IWO-I Deli Serdang di Sambut Oleh Ketua OKK DPP IWO-I Bersama DPW IWO-I DKI Jakarta
Sambut HUT ke-75 Humas Polri, Polres Inhil Gelar Bakti Sosial di Panti Asuhan Muhammadiyah
PCNU KOTA JAMBI MENERIMA BANTUAN MASKER DARI BPBD KOTA JAMBI UNTUK APEL HARI SANTRI NASIONAL 2026*
53 Pelajar Kabupaten Kediri Bawa Misi Kenalkan Seni dan Budaya di Kraton Yogyakarta

Berita Terkait

Selasa, 20 Oktober 2026 - 01:32 WIB

Terima Kunjungan Hinca Panjaitan, Kejari Karo Bahas Isu Strategis dan Penguatan Pelayanan Hukum

Selasa, 20 Oktober 2026 - 01:24 WIB

Tingkatkan Akuntabilitas dan Kinerja Organisasi, Kejari Karo Hadiri Evaluasi SAKIP Virtual 2026

Senin, 19 Oktober 2026 - 23:29 WIB

Dari Desa Untuk Negeri, Satgas TMMD Kodim 0206/Dairi Berjuang Membuka Akses Sibongkaras

Senin, 19 Oktober 2026 - 22:58 WIB

HINCA PANJAITAN ZIARAH KE MAKAM BOLANG PENAWAR DAN SERAP ASPIRASI GANTI RUGI LAHAN DI DESA KANDIBATA, LANJUT BAHAS KEARIFAN LOKAL DI KEJARI KARO

Senin, 19 Oktober 2026 - 22:50 WIB

Tim Cobra Polres Karo Ungkap Kasus Pencurian, Residivis Diamankan di Kabanjahe

Senin, 19 Oktober 2026 - 22:44 WIB

Jelang Hari Jadi Humas Polri ke-75, Si Humas Polres Karo Gelar Bakti Sosial di Masjid Husnul Khotimah

Senin, 19 Oktober 2026 - 22:29 WIB

Polres Karo Kembali melaksanakan Kegiatan Rutin Yang Ditingkatkan (KRYD), Dua Pria Diamankan Bersama Sabu di Bintang Meriah

Senin, 19 Oktober 2026 - 22:24 WIB

Wakapolres Karo Pimpin Apel Pagi, Tekankan Tanggung Jawab Pelaksanaan Program Quick Wins Kapolri

Berita Terbaru