Batang hari,- nasional detikcom,.Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan Hari Santri Nasional ini bertujuan untuk mengenang perjuangan para santri dan ulama dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan indonesia.
Selain itu, Hari Santri menjadi momen untuk mengenang, meneladani, dan melanjutkan peran ulama serta santri dalam membela Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Santri andri mengatakan ,”Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn, segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kesempatan untuk mengenal indahnya kehidupan pesantren, tempat di mana ilmu dituntut, akhlak dibentuk, adab ditanamkan, dan hati dididik agar senantiasa dekat kepada Allah SWT” kata Andri
Lanjutnya,menjadi santri di Pondok Pesantren Zulhijjah merupakan bagian dari perjalanan hidup yang penuh makna. Di tempat inilah seorang santri belajar bahwa kehidupan bukan semata-mata tentang mengejar dunia, jabatan, kekayaan, dan kehormatan, melainkan juga tentang bagaimana menjaga iman, memperbaiki akhlak, menghormati guru, berbakti kepada orang tua, serta mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat.
” Ada banyak kenangan yang tersimpan dalam perjalanan menjadi santri. Ada lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang menenangkan hati, ada pengajian kitab yang membuka pintu pemahaman, ada nasihat para kiai dan ustaz yang menjadi penerang jalan kehidupan, serta ada doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh harap agar kelak menjadi manusia yang bermanfaat bagi agama, masyarakat, bangsa, dan negara.
” Di pesantren, kita diajarkan bahwa ilmu tanpa adab akan kehilangan keindahannya, kepintaran tanpa kerendahan hati dapat menjerumuskan, dan jabatan tanpa akhlak hanya akan menjadi kebanggaan yang sementara. Sebab, kemuliaan seorang manusia bukan hanya dilihat dari apa yang dimilikinya, tetapi juga dari bagaimana ia menjaga hati, memperlakukan sesama, dan menjalankan amanah yang diberikan kepadanya.
Sebagai seorang santri, Andri belajar bahwa menghormati guru bukan sekadar tradisi, melainkan bagian dari pendidikan hati. Memuliakan kiai bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga dengan menjaga nasihatnya, mengamalkan ilmunya, dan senantiasa mendoakan kebaikan bagi para guru yang telah membimbing kita menuju jalan yang diridai Allah SWT.
Terkadang, ketika kita telah melangkah jauh meninggalkan gerbang pesantren, justru kerinduan kepada suasana pesantren semakin terasa. Rindu kepada suara azan yang memanggil untuk salat berjamaah, rindu kepada suasana pengajian, rindu kepada kebersamaan dengan para santri, dan rindu kepada nasihat sederhana para guru yang dahulu mungkin belum sepenuhnya kita pahami, tetapi kini terasa begitu berharga.
Waktu boleh berlalu, usia boleh bertambah, perjalanan hidup boleh membawa kita ke berbagai tempat, bahkan amanah dan tanggung jawab boleh semakin besar. Namun, jangan sampai semua itu membuat kita lupa dari mana kita belajar tentang kesederhanaan, keikhlasan, kesabaran, dan arti sebuah pengabdian.
Pondok Pesantren Zulhijjah bukan sekadar tempat menuntut ilmu, tetapi juga bagian dari perjalanan membentuk jiwa, menjaga iman, dan menanamkan nilai-nilai perjuangan. Semoga setiap ilmu yang pernah dipelajari menjadi cahaya dalam kehidupan, setiap nasihat guru menjadi pegangan, dan setiap doa yang pernah dipanjatkan menjadi jalan menuju keberkahan, “pungkasnya





























