TULUNGAGUNG ,Nasionaldetik.com — Pemerintah Kabupaten Tulungagung memperkuat langkah peningkatan produktivitas tebu melalui program Bongkar Ratoon. Program tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah dalam mendorong peningkatan hasil panen sekaligus memperkuat keberlanjutan sektor pergulaan di Kabupaten Tulungagung.
Komitmen tersebut ditunjukkan melalui panen perdana tebu program Bongkar Ratoon tahun 2025 di Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, Rabu (7/10/2026). Panen yang bertepatan dengan momentum Hari Tani Nasional 2026 itu turut dihadiri Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin bersama jajaran Forkopimda, Dinas Pertanian, manajemen PG Mojopanggung PT Sinergi Gula Nusantara, penyuluh pertanian, serta kelompok tani.
Panen dilakukan di lahan seluas 4,55 hektare dengan taksasi produksi mencapai sekitar 90 ton tebu per hektare. Hasil tersebut menunjukkan adanya potensi peningkatan produktivitas melalui peremajaan tanaman, penggunaan bibit unggul, serta penerapan teknik budidaya yang lebih baik.
Plt Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin mengatakan, pengembangan tanaman tebu harus diarahkan tidak hanya untuk memperluas areal tanam, tetapi juga meningkatkan produktivitas setiap lahan yang dikelola petani.
Menurutnya, luas areal tanaman tebu di Tulungagung pada 2026 telah mencapai lebih dari 4.000 hektare. Jumlah tersebut mengalami peningkatan dibandingkan sekitar 3.800 hektare pada tahun sebelumnya.
“Para petani adalah pahlawan pangan. Program bongkar ratoon dirancang agar tanaman tebu dapat dipanen hingga 10 kali masa ratoon dengan hasil tetap maksimal, didukung bibit unggul terpilih secara nasional,” ujar Baharudin.
Ia menambahkan, peningkatan produktivitas tebu membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah daerah, petani, penyuluh, dan pabrik gula harus membangun sinergi agar program yang dijalankan mampu memberikan dampak nyata terhadap pendapatan petani.
Baharudin menekankan empat aspek yang perlu terus diperkuat, yakni peningkatan kualitas dan produksi tebu, kemitraan antara petani dengan pabrik gula, pemanfaatan teknologi pertanian modern, serta pengembangan industri gula yang berkelanjutan.
Sementara itu, keberadaan PG Mojopanggung dinilai memiliki kontribusi besar dalam menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Pabrik gula yang telah berdiri sejak 1852 tersebut tidak hanya menjadi bagian dari sejarah industri gula di Tulungagung, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan dan menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat setiap musim giling.
General Manager PG Mojopanggung, Agus Budi Juwono, menyebutkan operasional pabrik selama musim giling mampu menyerap sekitar 650 tenaga kerja secara langsung. Di luar itu, terdapat ribuan tenaga penebang dan pengangkut tebu yang ikut terlibat dalam proses produksi.
Pada musim giling 2026, PG Mojopanggung dijadwalkan beroperasi selama 148 hari, mulai 3 Juni hingga 25 Oktober 2026. Kapasitas giling pabrik mencapai sekitar 3.000 ton tebu per hari.
Agus berharap kerja sama antara pemerintah daerah, petani, penyuluh, dan pihak pabrik semakin diperkuat. Menurutnya, keberhasilan industri gula tidak dapat dilepaskan dari keberadaan petani sebagai pemasok bahan baku utama.
Dukungan terhadap program tersebut juga disampaikan Ketua Kelompok Tani Tani Unggul, Endang Suwarti. Ia mengatakan pendampingan yang diberikan Dinas Pertanian, penyuluh, serta PG Mojopanggung membantu petani dalam menjalankan program Bongkar Ratoon.
“Keberhasilan panen ini tidak lepas dari kerja sama dan gotong royong semua pihak,” ujarnya.
Di Tulungagung, program Bongkar Ratoon mencakup lahan sekitar 151 hektare. Selain itu, terdapat perluasan areal tanam mencapai 207 hektare.
Pemerintah daerah berharap kombinasi peremajaan tanaman dan perluasan areal tersebut dapat memperkuat produksi tebu Tulungagung. Dalam jangka panjang, peningkatan produktivitas diharapkan tidak hanya mendukung kebutuhan bahan baku pabrik gula, tetapi juga memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi petani.
Reporter : Robi
Editor : Admin



























