BEM PTNU DIY: Ledakan Izin Tambang dan PLTA di Sumatera Jadi Akar Bencana, Pemerintah Diminta Tidak Lagi Menyalahkan Cuaca

EDI SUPRIADI

- Redaksi

Minggu, 30 November 2025 - 21:00 WIB

50625 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Yogyakarta//nasionaldetik.com – Bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera dalam beberapa pekan terakhir kembali memunculkan pertanyaan besar mengenai tata kelola lingkungan di Indonesia. BEM PTNU DIY, melalui kajian yang disusun oleh Misbahuddin Yamin, Pengurus Bidang Lembaga Kajian Strategis dan Advokasi, menilai bahwa bencana tersebut bukan peristiwa alam belaka, tetapi hasil dari akumulasi kebijakan yang membuka ruang luas bagi aktivitas ekstraktif.

Dalam keterangannya, Misbahuddin menyebut bahwa sebagian besar wilayah hulu di Sumatera kini telah berubah fungsi akibat ekspansi tambang, perkebunan skala besar, hingga proyek-proyek energi yang menggerus tutupan hutan. Ia menyebut kondisi ini “mengikis kemampuan tanah menahan air dan menjadikan kampung-kampung di hilir sebagai korban pertama.”

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Sumatera hari ini bukan hanya sedang diterpa hujan, tetapi diterpa dampak dari jutaan hektare hutan yang hilang. Ketika hulu digunduli, hilir pasti menanggung akibat. Tetapi anehnya, cuaca selalu menjadi tersangka utama, bukan kebijakan yang membongkar hutan itu sendiri,” ujar Misbahuddin.

Berdasarkan data yang dikutip dari Jaringan Advokasi Tambang (JATAM), Sumatera kini dibebani 1.907 izin tambang aktif dengan luas lebih dari 2,45 juta hektare. Di sisi lain, terdapat 271 izin pelepasan kawasan hutan, dengan 66 di antaranya diberikan khusus untuk tambang. Selain itu, sedikitnya 28 proyek PLTA berdiri di kawasan sensitif seperti hutan lindung dan tepian sungai. Salah satu yang paling disorot adalah proyek PLTA Batang Toru yang telah membuka puluhan hektare hutan primer.

Menurut BEM PTNU DIY, rangkaian izin ini menciptakan kerusakan di wilayah hulu yang mempercepat terjadinya banjir dan longsor di hilir. Mereka menilai bahwa negara masih menutup mata terhadap akar persoalan dan lebih memilih narasi aman: menyalahkan cuaca ekstrem.

“Seolah-olah hujan yang membawa ekskavator ke hutan. Padahal pembukaan lahan terbesar justru dilakukan secara legal. Ini ironi yang tidak bisa lagi ditoleransi,” kata Misbahuddin.

BEM PTNU DIY juga mengkritik cara pemerintah menarasikan pembangunan. Menurut mereka, banyak proyek yang disebut sebagai pembangunan justru menambah kerentanan ekologis. Misbahuddin menyebutnya sebagai “pembangunan yang menyisakan kubangan risiko.”

“Kalau pembangunan hanya menghasilkan banjir bandang, sawah yang hilang, dan warga yang mengungsi, itu bukan pembangunan itu perusakan yang diberi nama indah,” tegasnya.

Melihat kondisi yang semakin parah, BEM PTNU DIY mendorong pemerintah untuk menghentikan sementara penerbitan izin tambang dan proyek baru di kawasan rentan, serta melakukan audit lingkungan menyeluruh atas seluruh izin yang telah beroperasi. Mereka juga menekankan perlunya pemulihan ekologis di wilayah hulu dan penegakan hukum terhadap perusahaan yang memperparah kerusakan.

Misbahuddin menegaskan bahwa apa yang terjadi di Sumatera seharusnya menjadi peringatan keras.

“Sumatera sudah berteriak lewat banjir yang menenggelamkan kampung-kampung. Jika pemerintah tetap menutup mata terhadap akar masalahnya, maka tragedi berikutnya tinggal menunggu waktu. Bukan alam yang harus diubah, tetapi kebijakan kita,” tutup Misbah.

Berita Terkait

Sorotan Abdul Haris Nepe: Substansi Perjuangan Mahasiswa Terkubur di Balik Kerusuhan
FMN Yogyakarta Nyatakan Dukungan Penuh atas Keputusan Pleno Syuriyah PBNU Tetapkan KH. Zulfa Mustofa sebagai Pj Ketua Umum
PNIB INGATKAN MAFIA MINYAK DI SUMBAR “JANGAN MAIN-MAIN DENGAN NEGARA, APALAGI KEPENTINGAN RAKYAT!
BEM PTNU DIY Gelar Talkshow Spesial Hari Santri: “Merawat Citra Menguak Realita” Membangun Dialog Terbuka antara Pesantren dan Media
The Joy of Solo Travel: Tips and Inspiration for Adventuring Alone

Berita Terkait

Senin, 8 Juni 2026 - 18:17 WIB

WAKUR ANGGARAN UNTUK KESEJAHTERAAN: PEMDES JIPANG SUKSES SALURKAN BANTUAN PANGAN MELIMPAH UNTUK KEBUTUHAN WARGA

Senin, 8 Juni 2026 - 17:54 WIB

Kodim 0203/Langkat Rampungkan Pembangunan Jembatan Aramco Penghubung Desa Bukit Melintang–Desa Setungkit

Senin, 8 Juni 2026 - 17:39 WIB

Kodim 0103/Aceh Utara Hadirkan Jembatan Perintis, Buka Jalan Kemajuan Warga

Senin, 8 Juni 2026 - 17:36 WIB

*Hadiri Peletakan Batu Pertama Masjid Dirgantara, Kodim 0209/Labuhanbatu Dukung Penguatan Syiar dan Kebersamaan Umat*

Senin, 8 Juni 2026 - 16:57 WIB

Soliditas NU Bengkulu, Gus Salam; Teladan Khidmah Demi Kemashlahatan Umat

Senin, 8 Juni 2026 - 16:41 WIB

Kondisi Memprihatinkan SDN Cilampang, DPD IWO Indonesia Kota Serang Minta Perhatian Serius Pemerintah

Senin, 8 Juni 2026 - 16:02 WIB

Serahkan Lebih dari 1.000 Sertipikat Tanah Wakaf dalam ICOP 2026, Menteri Nusron Minta Penerima Jadi Pionir Percepatan

Senin, 8 Juni 2026 - 15:50 WIB

BKKBN Banten Kick Off Pelayanan KB Serentak Harganas 2026

Berita Terbaru